Semester I, Laba Bank Mandiri Meroket 28 Persen Jadi Rp 12 T

Yuli Yanna Fauzie, CNN Indonesia | Kamis, 19/07/2018 20:50 WIB
Semester I, Laba Bank Mandiri Meroket 28 Persen Jadi Rp 12 T Nasabah menyetor uang di cabang Bank Mandiri Gambir, Jakarta. (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia -- PT Bank Mandiri (Persero) Tbk mencatatkan laba bersih mencapai Rp12,17 triliun pada semester I 2018 atau melonjak 28,7 persen dari semester I 2017 yang hanya Rp9,46 triliun.

Perolehan laba tersebut ditopang oleh pendapatan operasional yang meningkat 8,2 persen dari Rp37,87 triliun menjadi Rp40,97 triliun, meski beban operasional meningkat sekitar 8 persen dari Rp16,06 triliun ke Rp17,34 triliunan.


Direktur Bisnis Kecil dan Jaringan Bank Mandiri Hery Gunardi mengatakan beban operasional memang meningkat, tapi masih bisa teratasi karena perseroan berhasil mengurangi Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN).


"Kami berhasil menurunkan CKPN sekitar 15,4 persen, karena kami konsisten melakukan collection, restrukturisasi, dan berbagai efisiensi, sehingga ini memperbaiki kualitas kredit kami," ujar Hery saat paparan kinerja perseroan di Plaza Mandiri, Kamis (19/7).

Adapun, penurunan CKPN turut disertai dengan menurunnya rasio kredit bermasalah (Non Performing Loan/NPL) dari sebelumnya 3,82 persen menjadi 3,13 persen pada akhir paruh pertama tahun ini. Namun, perseroan memang target, NPL pada akhir tahun bisa mencapai kisaran 2,8-3,2 persen.


Sementara itu, pendapatan operasional berhasil digenjot lebih tinggi dengan sumbangan terbesar dari pendapatan bunga yang meningkat 3,4 persen dari Rp25,68 triliun menjadi Rp26,56 triliun.

Namun, pertumbuhan cemerlang dicatatkan oleh pendapatan non bunga (fee based income) yang tumbuh 18,1 persen dari Rp10,89 triliun menjadi Rp12,86 triliun. Ia bilang, fee based income berhasil melejit karena perseroan memaksimalkan seluruh saluran pembayaran digital yang dimiliki, yaitu 17 ribu mesin ATM, 235 ribu mesin EDC, mobile banking, hingga SMS banking.

Sedangkan pendapatan bunga disumbang oleh pertumbuhan kredit yang mencapai 11,8 persen dari Rp682 triliun menjadi Rp762,5 triliun. Khususnya kredit ke segmen korporasi yang tumbuh 22,2 persen mencapai Rp296,8 triliun pada paruh pertama ini.

Lalu, kredit mikro tumbuh 24,8 persen menjadi Rp90,6 triliun, kredit ke perusahaan anak naik 19,6 persen menjadi Rp91,4 triliun, kredit konsumer meningkat 14,1 persen ke Rp83,3 triliun, dan kredit ke perusahaan asing tumbuh 317,9 persen menjadi Rp3,3 triliun.


Kontribusi dari segmen-segmen tersebut berhasil menutup minimnya sumbangan kredit dari segmen kecil dan menengah yang melorot 9,1 persen menjadi Rp53,7 triliun dan kredit bisnis menengah yang turun 8,8 persen ke Rp143,4 triliun. Menurutnya, pertumbuhan kedua segmen ini menurun karena bank tengah giat melakukan restrukturisasi dan penghapusan kredit, sehingga penyaluran kredit baru pun sedikit tersendat.

Lebih lanjut, ia bilang, peningkatan penyaluran kredit turut disumbang oleh derasnya aliran kredit ke proyek-proyek infrastruktur. Maklum, bank pelat merah ini memang menjadi salah satu bank yang getol membiayai proyek infrastruktur pemerintah. Kredit infrastruktur tumbuh 24,1 persen menjadi Rp165,8 triliun dari limit senilai Rp255,3 triliun.

Tak hanya infrastruktur, bank berlogo pita emas ini juga melaksanakan program Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari pemerintah. Sampai akhir Juni kemarin, penyalurannya telah mencapai Rp8,27 triliun atau 56,79 persen dari target Rp14,56 triliun.

Sementara dari sisi Dana Pihak Ketiga (DPK) jumlahnya mencapai Rp803 triliun atau masih tumbuh 5,5 persen dari periode yang sama pada tahun lalu senilai Rp760,9 triliun. Sumbangan DPK mayoritas berasal dari dana murah (Current Account Saving Account/CASA), seperti tabungan dan giro yang mencapai Rp519 triliun atau 64 persen dari total DPK. Sedangkan sisanya berupa dana mahal atau deposito mencapai Rp284 triliun.

Hery bilang, ke depan memang perseroan akan lebih mengutamakan peningkatan dana murah, sehingga laba bersih tetap bisa dijaga, namun penyaluran kredit tetap kencang. "Strategi utama meningkatkan dana murah, yaitu mendorong giro transaksional dan varian produk tabungan," terangnya.


Lebih rinci, DPK tersebut lebih banyak disumbang oleh tabunga, giro, dan deposito berdenominasi rupiah, masing-masing tumbuh 9,3 persen, 4,5 persen, dan 2,9 persen. Sedangkan DPK valuta asing (valas) bervariasi. Tabungan dan deposito valas tumbuh 7,2 persen dan 25,5 persen, namun giro valas turun 7,4 persen. Hal ini karena tekanan pelemahan nilai tukar rupiah, sehingga suplai valas cukup berkurang.

Di sisi lain, meski DPK masih tumbuh, namun rasio volume kredit yang disalurkan dengan penerimaan dana bank (Loan to Deposit Ratio/LDR) justru meningkat dari 89,4 persen ke 94,57 persen.

Walhasil, rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) turun dari 21,55 persen ke 20,64 persen. Sementara margin bunga bersih (Net Interest Margin/NIM) turun dari 5,88 persen ke 5,74 persen. Namun, aset meningkat 8,3 persen menjadi Rp1.155,54 triliun. (lav/lav)