Perusahaan Ini Bikin Waktu Kerja Hanya Empat Hari Sepekan

Lavinda, CNN Indonesia | Minggu, 22/07/2018 17:24 WIB
Perusahaan Ini Bikin Waktu Kerja Hanya Empat Hari Sepekan Ilustrasi bekerja. (Bench Accounting via StockSnap)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sebuah perusahaan di Selandia Baru menguji waktu kerja empat hari dalam sepekan. Percobaan itu dianggap sangat sukses, sehingga perusahaan ingin menetapkan aturan tersebut secara permanen.

Perpetual Guardian, perusahaan bidang jasa wali amanat, merilis hasil percobaan yang dilakukan selama dua bulan. Perusahaan itu melaporkan seluruh karyawan menjalankan produktivitas lebih besar, karena keseimbangan kehidupan kerja mereka lebih baik dan tingkat stres menjadi lebih rendah dibandingkan ketika waktu bekerja mereka lima hari dalam sepekan atau lebih.

Selama percobaan yang berlangsung pada awal Maret hingga akhir April, seluruh karyawan yang berjumlah 240 orang itu masih dibayar selama lima hari sepekan selama percobaan. Uji coba dilakukan oleh peneliti luar.



"Itu hanya teori, sesuatu yang saya pikir ingin saya coba karena ingin menciptakan lingkungan kerja yang lebih baik untuk tim saya. Saya bersyukur bahwa tim telah merespons, mereka bahkan melampaui mimpi yang tak terbayangkan sebelumnya," kata CEO Perpetual Guardian Andrew Barnes kepada CNN.com, beberapa waktu lalu.

Dalam survei yang dilakukan akhir tahun lalu, hanya 54 persen responden yang mengaku merasa mampu mengelola keseimbangan kehidupan kerja mereka. Setelah percobaan kerja empat hari sepekan itu, persentasenya melonjak menjadi 78 persen.

Tingkat stres karyawan juga menurun sekitar 7 persen, sementara metrik yang digunakan untuk mengukur kesolidan tim meningkat rata-rata sekitar 20 persen.

Jarrod Haar, peneliti dari Auckland University of Technology yang melakukan eksperimen mengungkapkan, kunci keberhasilan percobaan tersebut adalah kinerja para karyawan.


"Mereka diberi kebebasan untuk mendesain ulang berbagai hal. eksperimen ini bisa digunakan sebagai model di tempat kerja lain dan menjadi cara revolusioner untuk bekerja," kata Haar.

Barnes mengatakan karyawan menjadi lebih produktif, menghabiskan waktu lebih sedikit untuk membuka media sosial atau aktivitas di luar pekerjaan lainnya.

Seorang karyawan bahkan mengatakan kepadanya bahwa dia berhenti melihat email dari istrinya tentang pencarian apartemen selama jam kerja.

"Mengapa saya tidak membayar berdasarkan output? dan membayar pekerja untuk hari yang lebih banyak di kantor," kata Barnes.


Para karyawan menawarkan ide lain untuk mengukur produktivitas, seperti memiliki bendera kecil untuk ditempatkan di meja ketika mereka tidak ingin diganggu.

Menurut Organisasi untuk Kerja sama dan Pembangunan Ekonomi atau Organization for Economic Cooperation and Development (OECD), eksperimen ini berdampak sangat signifikan di Selandia Baru, yang memiliki produktivitas tenaga kerja rendah dibandingkan dengan negara lain.

Barnes telah merekomendasikan kepada dewan perusahaan agar aturan waktu bekerja empat hari sepekan ditetapkan secara permanen. Pasalnya, hal itu bisa berfungsi sebagai contoh untuk perusahaan lain di seluruh dunia.

"Apa yang terjadi adalah Anda mendapatkan tenaga kerja yang termotivasi, bersemangat, dan setia," katanya.

Dirinya mengaku memiliki hasil statistik yang menunjukkan karyawan sangat bangga dengan perusahaan tempat mereka bekerja. (CNN/lav)