Perubahan dinamika global, menurut Sri Mulyani, terjadi seiring berbagai retorika yang terjadi di dunia. Salah satunya, kebijakan Amerika Serikat terkait kebijakan tarif.
"Kalau semua melakukannya dalam bentuk inward looking dan konfrontasional pasti hasilnya jelek. Artinya, pertumbuhan ekonomi yang tadinya (diperkirakan) 3,9 persen tahun ini secara global mungkin akan menghadapi risiko sampai dengan semester 2," ujar Sri Mulyani di Gedung Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Kamis (26/7).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Keinginan G20 menjadi forum atau tempat untuk koordinasi menjadi tidak tercapai atau paling tidak sangat lemah dan itu mempengaruhi confidence terhadap mekanisme kerja sama antar negara," ujarnya.
"Kalau sekarang RRT (China) berubah posisi maka ini akan menimbulkan suatu dinamika yang belum pernah terjadi sebelumnya. Pengaruhnya tidak hanya terhadap perdagangan tetapi juga kepada nilai tukar dan juga sentimen terhadap aliran modal," terangnya.
Untuk itu, menurut dia, Indonesia harus mempererat pondasi perekonomian, baik dari konsumsi, belanja pemerintah, dan investasi.
Selain itu, pemerintah bersama dengan Bank Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) akan mempererat koordinasi demi menghadapi tekanan global dan menjaga momentum pertumbuhan ekonomi.
"Sentimen masih bisa diperbaiki meskipun di tengah situasi kecenderungan tingkat suku bunga naik dan pergerakan nilai tukar yang semakin dinamis," tambah dia. (agi)