Para ekonom mengharapkan bank sentral menaikkan suku bunga untuk melawan inflasi, yang mencapai 15 persen pada bulan Juni. Banyak pengamat menilai keputusan ini menunjukkan pengaruh Presiden Recep Tayyip Erdogan yang mendukung suku bunga rendah pada bank sentral.
Dikutip dari CNN, Tim Ash, Ekonom BlueBay Asset Management mengatakan keputusan ini tidak dapat dimengerti untuk ukuran bank sentral yang sebelumnya mengatakan peduli dengan inflasi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada Kamis (26/7), Presiden AS Donald Trump mengancam bakal memberikan "sanksi besar" pada Turki atas pemenjaraan seorang pendeta Amerika. Ancaman yang dapat berkembang pada penderitaan ekonomi Turki lebih besar.
Pergeseran tersebut menyebabkan kerusakan di pasar keuangan negara berkembang. Argentikan bahkan terpaksa meminta Dana Moneter Internasional (IMF) untuk memberikan dana talangan US$50 miliar atau sekitar Rp720 triliun (asumsi kurs Rp14.400 per dolar AS).
Risiko Turki
Ekonomi Turki tumbuh 7,4 persen pada kuartal pertama dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Namun pertumbuhannya dalam beberapa tahun terakhir telah didorong oleh konstruksi yang dibiayai sebagian besar oleh investor asing.
Investor khawatir tentang kemampuan negara mendatangkan uang selama masa-masa sulit untuk melunasi utangnya.
Erdogan, yang terpilih kembali pada bulan Juni, adalah sumber ketidakpastian lain. Seiring kekuasaannya yang terlalu besar pada kebijakan ekonomi negara tersebut.
Mujtaba Rahman, managing editor untuk Eropa di konsultan risiko politik Eurasia Group mengatakan bahwa pemerintah Turki perlu menjaga pengeluarannya di bawah kendali. Jika menteri keuangan gagal menyampaikan pesan yang kredibel, dia mengatakan risiko krisis yang berakhir pada kebutuhan dana talangan IMF akan semakin meningkat. (cnn/agi)