Harga Telur Meroket, BPS Catat Inflasi Juli 0,28 Persen

Galih Gumelar, CNN Indonesia | Rabu, 01/08/2018 11:26 WIB
Harga Telur Meroket, BPS Catat Inflasi Juli 0,28 Persen BPS mencatat dua komoditas utama penyebab inflasi di bulan Juni adalah telur ayam ras yang menyumbang andil inflasi 0,04 persen dan daging ayam ras sebesar 0,07 persen. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, indeks Harga Konsumen (IHK) meningkat 0,28 persen secara bulanan (month-to-month) di Juli. Angka ini lebih kecil dibandingkan inflasi bulanan di Juni yakni 0,59 persen.

Kepala BPS Suhariyanto menjelaskan inflasi secara tahun kalender (year-to-date) mencapai 2,18 persen. Jika dibandingkan tahun sebelumnya, inflasi ini tercatat 3,18 persen persen secara tahunan (year-on-year/yoy).

Ia melanjutkan, inflasi pada Juli lebih rendah lantaran puncak inflasi yang disebabkan oleh momen Ramadan dan Lebaran sudah selesai. Dengan demikian, harga-harga barang sudah mulai melandai.


"Puncak konsumsi Ramadan dan Lebaran sudah selesai, harganya kembali normal sehingga inflasi 0,28 lebih kecil dari bulan sebelumnya 0,59 ," ujar Suhariyanto di Gedung BPS, Rabu (1/8).

Hanya saja, tetap ada beberapa komoditas yang menjadi biang keladi inflasi saat ini. Suhariyanto menyebut, dua komoditas utama penyebab inflasi bulan Juni adalah telur ayam ras yang menyumbang andil inflasi 0,04 persen dan daging ayam ras sebesar 0,07 persen.


Maka dari itu, tak heran jika inflasi menurut kelompok pengeluaran bahan makanan tercatat 0,86 persen dan memberi andil inflasi sebesar 0,18 persen. Tak hanya itu, inflasi tinggi juga terjadi di kelompok pengeluaran pendidikan, rekreasi, dan olahraga, di mana sebagian besar rumah tangga membayar uang sekolah untuk tahun ajaran baru tingkat SD, SMP, dan SMA.

Di sisi lain, kenaikan harga Pertamax yang dimulai 1 Juli 2018 kemarin juga menyebabkan inflasi dengan andil 0,05 persen.

"Inflasi ini intinya disebabkan tiga poin, kenaikan telur ayam, daging ayam, dan bensin," paparnya.

Meski begitu, Suhariyanto menilai efek deflasi masih lebih kuat dibanding inflasinya. Adapun, deflasi terbesar disumbang oleh kelompok transportasi karena masa-masa mudik sudah selesai.


BPS mencatat, deflasi terjadi di tarif angkutan udara sebesar 0,16 persen, angkutan antar kota sebesar 0,09 persen dan tarif kereta api sebesar 0,01 persen. Sehingga, secara keseluruhan, kelompok transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan mengalami deflasi 0,65 persen dan berkontribusi ke inflasi minus 0,13 persen.

Tak hanya itu, golongan bahan makanan juga menyumbang deflasi seperti bawang merah yang memberi andil inflasi minus 0,05 persen, cabai merah juga mengalami deflasi 0,2 persen, dan terakhir daging sapi dan ikan segar mencatat deflasi masing-masing 0,08 persen.

Selain itu, dari 82 kota yang menjadi survei IHK bulan lalu, masih ada 14 kota yang mengalami deflasi. Adapun, deflasi tertinggi terjadi di Ambon dengan nilai 1,45 persen dan deflasi terendah di Palembang yakni 0,01 persen.

"Berarti bisa disimpulkan inflasi juni terkendali, dalam range yang ditetapkan asumsi makroekonomi APBN 3,5 persen," pungkas dia (agi/agi)