Isu Sandiaga Jadi Cawapres, Saham Saratoga Melonjak

Dinda Audriene Muthmainah, CNN Indonesia | Kamis, 09/08/2018 17:28 WIB
Isu Sandiaga Jadi Cawapres, Saham Saratoga Melonjak Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Harga saham PT Saratoga Investama Sedaya Tbk (SRTG) sempat melonjak hingga 3 persen pada siang ini setelah nama Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno santer disebut-sebut akan mendampingi Prabowo Subianto dalam pemilihan presiden (pilpres) 2019.

Berdasarkan pantauan CNNIndonesia.com sejak pukul 15.00 WIB, harga saham Saratoga Investama Sedaya menyentuh level Rp3.800 per saham atau melambung 3,26 persen.

Sebagai informasi, Sandiaga merupakan salah pemegang saham di perusahaan tersebut dengan persentase kepemilikan sebesar 27,97 persen atau setara dengan 754.115.429 lembar saham.




Analis Mega Capital Indonesia Fadlillah Qudsi mengatakan rumor yang menyebut Sandiaga Uno akan maju menjadi calon wakil presiden tahun depan dimanfaatkan pelaku pasar untuk mendapatkan cuan dari pasar saham.

"Karena memang itu bisa menjadi sentimen positif untuk perusahaannya sendiri," kata Fadlillah kepada CNNIndonesia.com, Kamis (9/8).

Sejauh ini, belum ada data pasti terkait kemudahan operasional perusahaan jika salah satu pemegang sahamnya adalah pemimpin daerah atau pemimpin negara.

Namun, secara tak langsung nama perusahaan akan terangkat jika Sandiaga Uno benar-benar maju dalam pesta demokrasi tahun depan. Setelah nama perusahaan terangkat, seluruh rencana proyek Saratoga Investama Sedaya kemungkinan besar akan lebih mudah direalisasikan.


"Misalnya bisa mempengaruhi salah satu pihak atau seseorang untuk deal or no deal dengan perusahaan ini. Dengan menyebut nama perusahaanya saja itu sebenarnya sudah bisa mempengaruhi," papar Fadlillah.

Sayangnya, pada akhir penutupan sore ini, harga saham Saratoga Investama Sedaya hanya mampu menguat tipis sebesar 0,82 persen ke level Rp3.710 per saham.

Sementara itu, Pengamat Pasar Modal Reza Priyambada menjelaskan sentimen ini hanya bersifat jangka pendek. Jika nama Sandiaga tak muncul dalam pendaftaran pasangan calon presiden dan wakil presiden pada esok hari, maka pelaku pasar akan langsung melakukan aksi ambil untung (profit taking).

"Besok saat pendaftaran calon presiden dan wakil presiden terakhir bisa-bisa profit taking-nya kencang kalau Sandiaga namanya tidak ada," ungkap Reza.


Reza menilai saham Saratoga Investama Sedaya sebenarnya tak liquid atau tak terlalu laris ditransaksikan di pasar sekunder. Dengan kata lain, jumlah permintaan dan penjualan saham tak sebanding.

"Apalagi perusahaan itu juga jarang mengeluarkan pernyataan, aksi korporasi juga jarang," terang Reza.

Makanya, Reza menyebut kondisi ini sebagai momentum pelaku pasar untuk memanfaatkan saham Saratoga Investama Sedaya yang selama ini bergerak stagnan (flat).

Secara year to date (ytd), harga saham tertinggi Saratoga Investama Sedaya berada di level Rp4.500 per saham. Namun, sejak akhir Juli 2018 harga saham perusahaan terus tertekan dan belum kembali ke area Rp4.000 per saham. (lav/lav)