Seperti halnya rupiah, beberapa mata uang negara di kawasan Asia juga tertahan di zona merah. Won Korea Selatan melemah 0,16 persen, yen Jepang minus 0,14 persen, ringgit Malaysia minus 0,1 persen, peso Filipina minus 0,07 persen, dan dolar Singapura minus 0,01 persen.
Namun, baht Thailand justru berbalik arah, kini berada di zona hijau, menguat 0,04 persen dari dolar AS.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Ada yang Risau DP 0 Persen Picu Kredit Macet |
Namun, euro Eropa, rubel Rusia, dan dolar Australia kini berada di zona hijau, masing-masing menguat 0,02 persen, 0,1 persen, dan 0,11 persen.
Analis Senior CSA Research Institute Reza Priyambada memperkirakan rupiah masih akan berlanjut melemah pada hari ini dengan bergerak di kisaran Rp14.615-14.635 per dolar AS, karena besarnya tekanan dari Negeri Paman Sam.
Pertama, AS baru saja mengeluarkan tarif bea masuk impor terbaru untuk China. Kedua, AS akan mengeluarkan tarif impor baru untuk Uni Eropa. Ketiga, bank sentral AS, The Federal Reserve diperkirakan akan tetap mengerek bunga acuannya pada bulan depan.
"Sementara itu, dari dalam negeri belum adanya sentimen yang terbarukan, sehingga membuat rupiah kehilangan momentum untuk mempertahankan kenaikannya," ucapnya. (lav)