Menko Darmin Fokus ke Titik Lemah Daripada Salahkan Global

Yuli Yanna Fauzie, CNN Indonesia | Kamis, 06/09/2018 03:55 WIB
Menko Darmin Fokus ke Titik Lemah Daripada Salahkan Global Menko Perekonomian Darmin Nasution mengaku tak ingin lagi menyalahkan tekanan ekonomi global terhadap rupiah, dan memilih berfokus membenahi transaksi berjalan. (CNN Indonesia/Safyra Primadhyta).
Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengaku tak ingin lagi menyalahkan sentimen tekanan ekonomi global terhadap pelemahan nilai tukar rupiah. Meski memang, hal itu yang menjadi faktor utama rupiah bak kekurangan darah saat ini.

Menurut Darmin, ketimbang menyalahkan tekanan eksternal, pemerintah kini lebih ingin fokus memperbaiki ketahanan ekonomi Tanah Air dengan membenahi titik-titik lemah di internal.

"Masalahnya, kami tidak bisa lagi jawab hanya karena sentimen saja. Tapi harus ada yang konkret. Di mana konkretnya? Ya titik lemah kami, yaitu neraca transaksi berjalan dan neraca perdagangan," ungkapnya di Gedung DPR/MPR, Rabu (5/9).


Dari sisi neraca perdagangan, Darmin menargetkan bisa menghemat devisa dari impor minyak dan gas (migas) sekitar US$2,3 miliar, sehingga defisit migas yang sempat mencapai US$3,1 miliar bisa sedikit berkurang.


Caranya, dengan perluasan mandatori biodiesel 20 persen (B20). Dengan begitu, kebutuhan Bahan Bakar Minyak (BBM) dari impor bisa ditutup oleh B20 dengan memanfaatkan kelebihan pasokan minyak sawit mentah (Crude Palm Oils/CPO).


Sembari berhemat, pemerintah turut membuka keran-keran baru penghasil devisa. Caranya, dengan mendorong sektor pariwisata melalui pemberian kredit layaknya mekanisme Kredit Usaha Rakyat (KUR) khusus untuk pengusaha hotel dan restoran berskala kecil.

"Nilainya Rp400 juta, itu bagus untuk pengusaha restoran dan sebagainya. Kami siapkan KUR-nya, tapi memang ini investasi yang harus pelan-pelan, kami tidak bisa paksa orang juga kan," ujarnya.

Bersamaan dengan berbagai langkah itu, ia memperkirakan defisit transaksi berjalan bisa ditekan ke arah 2,6-2,7 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) pada akhir tahun. Sedangkan per kuartal II 2018, defisit transaksi berjalan sekitar 3 persen dari PDB.


"Defisit transaksi berjalan memang mulai tinggi, walaupun sebenarnya pada 2013-2014 sempat lebih dari itu, 4,2 persen. Tapi ya kami mungkin akhir tahun bisa turunkan ke arah 2,6-2,7 persen," pungkasnya. (lav/bir)