Pernyataan ini disampaikan guna menjawab pertanyaan Ketua Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Melchias Marcus Mekeng saat rapat bersama pemerintah dan Bank Indonesia (BI) pada hari ini, Senin (10/9).
"Intinya, apakah pemerintah tetap untung dengan pelemahan rupiah saat ini?" tanya Mekeng kepada bendahara negara itu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dengan demikian, berdasarkan perhitungan CNNIndonesia.com, pelemahan rupiah membuat kas negara positif Rp9,55 triliun.
Sri Mulyani menjabarkan pelemahan rupiah sejak awal tahun membuat penerimaan negara dari pos Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) tumbuh 24,3 persen sampai 31 Agustus 2018. Padahal, pada periode yang sama tahun lalu, PNBP hanya tumbuh 20,2 persen.
Selain itu, pelemahan rupiah turut memberi dampak pada pos penerimaan pajak. Penerimaan pajak, katanya, sudah tumbuh di kisaran 16,5 persen pada tahun ini. Sedangkan tahun lalu periode yang sama, baru 9,5 persen.
"Secara keseluruhan, penerimaan negara sudah tumbuh 18,4 persen, sedangkan tahun lalu di kisaran 11 persen," katanya.
Sementara terhadap belanja, pelemahan kurs paling sensitif mempengaruhi pos belanja subsidi. Namun, ia memastikan dampak tidak begitu besar lantaran pengeluaran kas untuk belanja subsidi sejatinya telah diatur secara rinci dari sisi volume hingga harga yang disepakati dengan PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) atau PLN dan PT Pertamina (Persero).
Di sisi lain, dengan penerimaan negara yang masih lebih tinggi ketimbang belanja negara, Ani mengklaim bahwa keseimbangan neraca primer kembali surplus Rp11 triliun.
"Pada Juli, primary ballance sempat berubah dari positif ke negatif, tapi sekarang sudah posiitf lagi. Bahkan kalau dibandingkan dengan tahun lalu, Agustus 2017, keseimbangan primer justru defisit Rp84 triliun. Jadi ini lonjakan yang nyata," jelasnya.
Sementara, defisit APBN 2018 sampai 31 Agustus 2018 sebesar Rp150 triliun atau lebih rendah dari Agustus 2017 yang mencapai Rp220 triliun.
Pada perdagangan siang ini di pasar spot, rupiah bertengger di level Rp14.870 per dolar AS. Sedangkan kurs referensi BI, Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) menempatkan rupiah di kisaran Rp14.835 per dolar AS. (agi/bir)