"Biarkan kami rekonsiliasi sampai tuntas," ujar Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution di kantornya usai menggelar rapat koordinasi di kantornya, Selasa (18/9) malam.
Sebelumnya, implementasi program ini diakui tidak berjalan dengan baik. Misalnya, ketersediaan Fatty Acid Methyl Ester (fame) yang merupakan Bahan Bakar Nabati (BBN) yang dicampur ke minyak solar di bulan-bulan tertentu sedikit. Sebagai catatan, program B20 untuk minyak solar sektor transportasi darat telah berjalan sejak dua tahun lalu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Memang, ada bulan di mana dia (fame) adanya sedikit sekali. Jadi bagaimana menghitungnya," terang dia.
Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar mengungkapkan upaya rekonsiliasi dilakukan untuk memastikan berapa potensi penghematan devisa dari program tersebut, termasuk realisasi dan rencana penggunaan biodiesel hingga tahun depan.
Dalam praktiknya, Arcandra tak memungkiri pelaksanaan program tersebut mengalami kendala teknis. Namun, pemerintah mengupayakan untuk menyelesaikan kendala-kendala tersebut.
Sebelumnya, Direktur Jendral Minyak dan Gas Djoko Siswanto menyebutkan salah satu kendalanya seperti pengiriman pasokan fame ke Badan Usaha Bahan Bakar Minyak (BU BBM). Apabila tidak mendapatkan pasokan fame, praktis suatu BU BBM belum bisa menyalurkan biosolar.
"Saat harus mengangkut (fame) ke depo tertentu di pulau tertentu kan harus menggunakan kapal. Pengadaan kapal kan tidak bisa satu hari, dua hari, tetapi bisa empat belas hari," katanya.
Secara terpisah, Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Rida Mulyana menyebut penghematan impor dari perluasan program B20 selama empat bulan ke depan hanya akan berkisar US$1 miliar. Namun, ia tak merinci dari mana asal angka tersebut.
"Program B20 akan ikut berkontribusi mengurangi (defisit) kalau neraca perdagangan masih negatif. Kami targetkan dalam empat bulan ini (penghematan) bisa US$1 miliar," tandas Rida. (sfr/bir)