Terlilit Krisis Ekonomi, Warga Argentina Kembali ke Barter

Tim, CNN Indonesia | Selasa, 25/09/2018 06:15 WIB
Terlilit Krisis Ekonomi, Warga Argentina Kembali ke Barter Ilustrasi krisis di Argentina. (REUTERS/Marcos Brindicci)
Jakarta, CNN Indonesia -- Harga bahan pangan pokok, seperti tepung, telur, dan terigu yang melejit akibat terlilit krisis mata uang membuat warga Argentina kreatif dalam berbelanja.

Biaya hidup yang meningkat akibat inflasi yang mencapai 30 persen, tanpa diiringi kenaikan gaji membuat rumah tangga kian terjepit.

Sejumlah langkah dilakukan warga guna memaksimalkan peso yang mereka miliki mulai dari melakukan barter barang dalam jumlah besar hingga berburu harga termurah dan melakukan tawar menawar.


"Kini sulit untuk memenuhi seluruh kebutuhan belanja pada satu tempat yang sama. Anda harus berjalan sepanjang hari untuk menemukan harga terbaik," ujar Augustina Saravia, salah satu warga kelas menengah bawah di Buenos Aires, Argentina, seperti dikutip dari AFP, Senin (24/9).


Ia menyebut di Pasar Mingguan Nueva Pompeya, Buenos Aires, harga tomat dipatok 50 peso per kilogram, sedangkan di kebun sayur harganya 30 peso per kilogram.

Sebagian besar pelanggan pasar menghabiskan waktu mereka memeriksa harga, berpindah dari satu tempat ke tempat lain untuk membandingkan harga. Terkadang mereka harus kembali ke tempat awal sebelum melakukan pembelian.

Menurut lembaga statistik nasional Argentina (INDEC), inflasi selama delapan bulan pertama 2018 negara tersebut mencapai 24,3 persen. Hingga akhir September, inflasi diperkirakan mencapai 30 persen.

Harga minyak di negara tersebut telah naik hingga 40 persen, telur naik 56 persen, sedangkan harga tepung terigu naik lebih dari dua kali lipat.


Salah satu metode untuk mengurangi biaya hidup adalah dengan membeli barang dalam jumlah besar.

Ibu dari empat anak, Vanessa Ledesma yang berprofesi sebagai perawat harus melakukan perjalanan 40 menit dengan bus di selatan Buenos Aires untuk mencapai pedagang grosir. Meski demikian, harga barang yang ia dapat sepadan.

"Untuk harga beras satu kilogram di dekat rumah saya, saya dapat memperoleh di sini untuk kebutuhan dua keluarga selama satu bulan," ungkapnya.

Dia menempuh perjalanan tersebut untuk mencari harga terbaik. Kali ini, keranjang belanjanya hanya berisi empat atau lima produk yang berbeda.

"Saya tidak membeli banyak karena harganya sudah naik," jelasnya.


Selama bulan Agustus, harga tomat meningkat 10 persen, ayam delapan persen, dan kentang tujuh pasar.

Kenaikan harga terjadi akibat nilai tukar peso yang turun hingga 20 persen dalam dua hari di Agustus atau 50 persen sepanjang tahun ini.

Jatuhnya Peso dipengaruhi oleh krisis kepercayaan investor terhadap kondisi ekonomi negara tersebut.

Barter Barang
Di ruang terbuka di belakang stasiun kereta api Monte Grande, sekitar 40 kilometer dari pusat kota Buenos Aires, Tamara (28 tahun) melakukan transaksi barter barang.

Tamara yang kini menganggur dan memiliki seorang anak perempuan membawa beberapa paket gula yang dia beli dalam jumlah besar beberapa bulan yang lalu.


"Inilah yang saya dapatkan, saya belum pernah ke supermarket dalam dua bulan terakhir," katanya setelah menukarkan gula untuk pasta, tomat, dan pakaian.

Ia megunjungi bursa barter barang tiga kali seminggu guna memenuhi semua kebutuhannya.

Pasar barter pertama muncul selama krisis ekonomi pada 2001 di mana krisis ekonomi yang lebih besar melanda negara tersebut. Masalah tahun ini telah memberi dorongan pada warga negara tersebut untuk melakukan aksi barter dibantu oleh media sosial.

"Kami menggunakan Facebook untuk mengatur diri dan memungkinkan anggota untuk menerima permintaan dan mengatur pertukaran konkrit karena beberapa orang bahkan melakukan perjalanan hingga satu jam," kata Miriam Silva, administrator grup Facebook yang mengatur barter barang di Monte Grande. (agi/agi)