Harga Minyak Terdorong Keengganan OPEC Kerek Produksi Minyak

Tim, CNN Indonesia | Selasa, 25/09/2018 06:50 WIB
Harga Minyak Terdorong Keengganan OPEC Kerek Produksi Minyak Ilustrasi. (REUTERS/Sergei Karpukhin)
Jakarta, CNN Indonesia -- Harga minyak mentah acuan global melonjak lebih dari tiga persen hingga menembus US$80 per barel pada perdagangan Senin (24/9), waktu Amerika Serikat (AS). Lonjakan terjadi karena  Arab Saudi dan Rusia tidak terburu-buru mengerek produksi minyak meski Presiden AS Donald Trump telah memintanya.

Dilansir dari Reuters, Selasa (25/9), harga minyak mentah berjangka Brent terangkat US$2,4 atau 3,1 persen menjadi US$81,2 per barel. Selama sesi perdagangan berlangsung, harga Brent sempat menyentuh level US$81,39 per barel, tertinggi sejak November 2014.

Penguatan juga terjadi pada harga minyak mentah berjangka AS West Texas Intermediate (WTI) sebesar US$1,3 atau 1,8 persen menjadi US$72,8 per barel.


Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya, termasuk Rusia, berkumpul di Aljazair pada Minggu (23/9) lalu. Hasil pertemuan tersebut tidak memberikan rekomendasi formal mengenai tambahan pasokan untuk mengimbangi berkurangnya pasokan dari Iran.

"Pasar masih digerakkan oleh kekhawatiran terkait pasokan dari Iran dan Venezuela," ujar Direktur Riset Pasar Tradition Energy Gene McGillian di Stamford, AS.

Menurut McGillian, kegagalan produsen untuk menempatkan persoalan gangguan pasokan tersebut secara mencukupi pada akhir pekan lalu membuka peluang untuk aksi beli.

Beberapa analis mengatakan melemahnya permintaan akibat memanasnya tensi perdagangan antara AS-China dapat mengimbangi berkurangnya pasokan dari Iran. Namun, McGillian menilai, kecuali tensi perdagangan menunjukkan bukti permintaan China tergerus, harga minyak tetap akan terdongkrak lebih jauh.
Pemimpin OPEC Arab Saudi serta produsen minyak terbesar dunia di luar OPEC, Rusia, secara terang-terangan menolak permintaan Trump untuk segera bertindak demi menenangkan pasar pada pertemuan yang digelar Minggu (23/9) lalu.

"Saya tidak mempengaruhi harga," ujar Menteri Energi Arab Saudi Khalid al-Falih kepada awak media pada Minggu lalu, seperti dikutip dari Reuters.

Pekan lalu, Trump mengatakan OPEC harus menurunkan harga minyak sekarang juga. Namun, Menteri Perminyakan Iran Bijan Zanganeh pada Senin (24/9) kemarin menyatakan OPEC tidak memberikan respons positif terhadap permintaan Trump tersebut.

"Hal ini menambah bukti bahwa mengingat produsen enggan untuk mengerek produksi, pasar akan menghadapi kekurangan pasokan untuk tiga hingga enam bulan ke depan yang akan diatasi melalui harga minyak yang lebih tinggi," ujar Ahli Strategi Perminyakan BNP Paribas Harry Tchilinguirian dalam Reuters Global Oil Forum beberapa waktu lalu.

Trader komoditas Trafigura dan Mercuria memperkirakan harga Brent dapat terkerek hingga US$90 per barel pada perayaan Natal tahun ini dan US$100 per barel di awal 2019 seiring mengetatnya pasar saat sanksi AS terhadap sektor perminyakan Iran berlaku efektif mulai 4 November 2018.

JP Morgan menyatakan sanksi AS terhadap Iran dapat mengurangi pasokan global sebesar 1,5 juta barel per hari (bph). Sementara, Mercuria memperingatkan pasokan di pasar bisa tergerus hingga dua juta bph akibat pengenaan sanksi AS tersebut.

Analis Teknis United-ICAP Brian LaRose mengungkapkan kekhawatiran terhadap kurangnya pasokan mendorong trader untuk menempatkan taruhannya di posisi beli sehingga mendorong harga Brent.

"Ini merupakan kali ke-7 selama beberapa bulan terakhir kita menantang posisi harga minyak tertinggi," ujar LaRose merujuk pada kontrak individu bulanan dari pada kontrak berkelanjutan.

Jika Brent merangkak melampaui US$82 per barel, kemungkinan harga terkerek hingga US$90 per barel dapat terjadi dalam waktu dekat.

Di AS, persediaan minyak mentah komersial berada di level terendah sejak awal 2015. Sementara, produksi minyak AS mendekati rekor tertinggi 11 juta bph meski jumlah titik pengeboran minyak AS mengarah ke perlambatan pertumbuhan produksi. (sfr/agt)