IMF-WB: BI Fokus Kebijakan Moneter dan Perdagangan Global

Tim, CNN Indonesia | Selasa, 09/10/2018 09:35 WIB
IMF-WB: BI Fokus Kebijakan Moneter dan Perdagangan Global Bank Indonesia (BI) akan fokus pada empat topik dalam pertemuan IMF-World Bank, khususnya kebijakan moneter negara maju dan ketergantungan perdagangan global. (REUTERS/Willy Kurniawan).
Nusa Dua, CNN Indonesia -- Bank Indonesia (BI) akan fokus pada empat topik dalam pertemuan tahunan Dana Moneter Internasional-Bank Dunia (IMF-World Bank), khususnya kebijakan moneter negara maju, terutama Amerika Serikat (AS) dan ketergantungan Indonesia terhadap perdagangan global.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengungkapkan salah satu kebijakan moneter yang akan dibicarakan adalah potensi kenaikan suku bunga acuan Federal Reserve. Seperti diketahui, bank sentral AS itu telah menaikkan suku bunga acuan sebanyak tiga kali pada tahun ini dan masih berpeluang kembali naik satu kali lagi.

"Kami akan menyuarakan kepentingan Indonesia seperti ini agar memang pemulihan ekonomi global seimbang dan suku bunga negara maju lebih jelas arahnya," ucap Perry di Bali, Senin (8/10).



Sebagai informasi, suku bunga acuan The Fed saat ini 2-2,25 persen, usai dinaikkan bulan lalu sebesar 25 basis poin. Tak berselang lama, BI ikut mengerek suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5,75 persen.

Selanjutnya, BI juga akan membahas mengenai pembiayaan infrastruktur, seiring dengan sikap pemerintah yang menggenjot pembangunan infrastruktur beberapa tahun terakhir.

"Ini akan kami usahakan agar pembiayaan infrastruktur tidak hanya dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), tapi juga swasta," tutur Perry.


Ia mencontohkan, pemerintah memiliki berbagai macam penawaran skema pendanaan untuk pembangunan infrastruktur, mulai dari obligasi berbasis proyek (project bond), hingga penanaman modal di dalam proyek infrastruktur secara langsung.

"Isu lainnya adalah bagaimana Indonesia bisa memanfaatkan ekonomi digital untuk kemajuan ekonomi Indonesia," sambung Perry.

Perry berharap ekonomi digital di Indonesia bisa mengembangkan industri Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), perusahaan teknologi informasi (financial technology/fintech), dan perusahaan rintisan (startup).

Terakhir, BI juga memilih pembahasan keuangan syariah sebagai salah satu pokok pembahasan dalam ajang tahunan ini. Nantinya, BI akan menunjukkan potensi pengembangan ekonomi syariah Indonesia.


"Pertemuan tahunan kali ini pun menandai pertama kalinya tema ekonomi syariah mendapat porsi pembahasan yang cukup besar," pungkas Perry. (aud/lav)