Angin Segar IMF-WB Belum Berhembus ke Bisnis Money Changer

Safyra Primadhyta, CNN Indonesia | Selasa, 09/10/2018 13:16 WIB
Angin Segar IMF-WB Belum Berhembus ke Bisnis Money Changer Ilustrasi Pertemuan Tahunan IMF-World Bank 2018. (ANTARA FOTO/ ICom/AM IMF-WBG/Wisnu Widiantoro).
Nusa Dua, CNN Indonesia -- Pertemuan Tahunan IMF-World Bank 2018 di Nusa Dua, Bali, digadang-gadang akan mendatangkan 15 ribu partisipan dari seluruh dunia. Namun, hajatan yang digelar mulai 8-14 Oktober ini belum juga menghembuskan angin segar ke bisnis penukaran uang (money changer) di wilayah setempat.

Berdasarkan pantauan CNNIndonesia.com, Selasa (9/10), sebagian pedagang valuta asing (valas) di kawasan Nusa Dua belum merasakan imbas peningkatan transaksi penukaran uang, baik secara frekuensi maupuan nominal transaksi.

Rahayu, penjaga layanan penukaran uang di Hotel Melia Nusa Dua, tempat sebagian peserta pertemuan menginap, mengaku transaksi penukaran uang belum meningkat. Malah, frekuensi transaksinya cenderung turun dari hari-hari biasa.

"Untuk transaksi, dari kemarin (Minggu (7/10) malah berkurang. Selama tiga hari belakangan lebih sepi," ujarnya.

Ia mensinyalir penurunan transaksi terjadi karena sebagian besar tamu yang datang lebih banyak menghabiskan waktu di area hotel, sehingga tidak membutuhkan uang tunai.

Pernyataan senada juga diungkapkan Yuni, petugas layanan penukaran uang di Hotel Westin Nusa Dua. "Kemarin ada yang menukarkan, tetapi frekuensinya juga tidak seperti biasanya," terang dia.

Menurut dia, kebutuhan valas peserta telah difasiitasi langsung oleh pihak panitia penyelenggara. Peserta juga telah membawa kartu kredit untuk bertransaksi.

Selain itu, di kawasan pertemuan terpadu Nusa Dua, juga ada beberapa bank yang beroperasi yang ikut melayani penukaran uang.

"Mungkin yang menukar di sini hanya mereka yang kepepet kehabisan uangnya. Itu pun nominalnya tak banyak hanya berkisar US$100," jelasnya.

Belum moncernya frekuensi transaksi tidak hanya dialami oleh money changer di dalam kawasan pertemuan terpadu Nusa Dua, tetapi juga di wilayah sekitar.

Supervisor Central Kuta Money Exchange Nusa Dua Hendra, misalnya, yang mengaku belum melihat peningkatan transaksi penukaran uang.

Kendati demikian, kantor pusat telah melakukan antisipasi peningkatan transaksi per 7 Oktober 2018 dengan menambah jam operasional dari yang biasanya tutup beroperasi pukul 09.00 WITA menjadi 00.00 WITA.

"Penambahan jam buka akan dilakukan hingga 16 Oktober 2018," katanya.

Hendra menduga kenaikan transaksi baru akan terjadi pekan ini, saat perhelatan secara resmi digelar. "Biasanya nilai transaksinya tak besar. Paling besar US$400," ujar Hendra.

Berbeda dengan Hendra, Zhaliq bin Syawi penjaga PT Perdana Mulia Masrur Valasindo AMC Nusa Dua telah mencatat kenaikan transaksi harian lebih dari dua kali lipat dibandingkan hari normal, terutama untuk mata uang dolar AS dan dolar Australia.

"Sejak dua minggu yang lalu sudah mulai meningkat," ujar Zhaliq.

Namun, ia menduga kenaikan transaksi mungkin terjadi karena kunjungan turis lebih ramai pada Oktober dibandingkan pada September.

Zhaliq berharap dalam beberapa hari ke depan transaksi penukaran uang semakin banjir.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Causa Iman tak kaget mendengar frekuensi penukaran uang di money changer tidak meningkat. Sebab, semakin banyak gerai pertokoan yang menerima pembayaran non-tunai.

Selain itu, peserta juga telah dibekali dengan kartu pembayaran non-tunai oleh panitia. "Perbankan juga sudah menyiapkan beberapa mesin EDC di sana (toko)," imbuhnya.

Seorang peserta dari Kanada Norman Yeung mengaku belum mengunjungi gerai money changer sejak tiba di Bali pada Minggu (7/9) lalu. "Biasanya, saya telah menukarkan uang sebelumnya," ujar Yeung.

Karena ini merupakan perjalanan bisnis, perusahaannya telah membekalinya dengan kartu kredit korporasi. Untuk perjalanan pribadi, ia juga lebih senang menggunakan kartu kredit pribadi yang tidak mengenakan biaya administrasi untuk bertransaksi di luar negeri.

Sementara, Thomas Samuel menilai layanan penukaran uang masih dibutuhkan. Pasalnya, sebagian gerai toko di Bali ada yang hanya melayani pembayaran menggunakan tunai.

"Saya menukarkan uang sekali, dua kali dalam sehari. Bergantung kebutuhan saya," tandas peserta dari Afrika Selatan ini.


(bir)