Sementara kurs referensi Bank Indonesia (BI), Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) menempatkan rupiah di posisi Rp15.253 per dolar AS atau melemah dari referensi kemarin di Rp15.215 per dolar AS.
Bersama rupiah, beberapa mata uang di kawasan Asia turut melemah. Won Korea Selatan melemah 0,94 persen, ringgit Malaysia minus 0,16 persen, dan renminbi China minus 0,07 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, mayoritas mata uang justru menguat di hadapan dolar AS. Yen Jepang menguat 0,01 persen, dolar Hong Kong 0,01 persen, peso Filipina 0,05 persen, rupee India 0,1 persen, dolar Singapura 0,12 persen, dan baht Thailand 0,57 persen.
Begitu pula dengan mayoritas mata uang utama negara maju turut menguat. Dolar Australia menguat 0,38 persen, euro Eropa 0,23 persen, franc Swiss 0,12 persen, rubel Rusia 0,1 persen, dan dolar Kanada 0,05 persen. Hanya poundsterling Inggris yang melemah 0,07 persen dari dolar AS.
Menurut IMF, pengetatan kebijakan moneter The Fed menjadi salah satu hal yang membuat lembaga itu menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi global pada tahun ini dari semula 3,9 persen menjadi 3,7 persen.
"Soal kenaikan bunga The Fed kembali panas dan bursa saham Amerika hampir semua jadi anjlok. Ini menjadi sentimen kuat ke dolar AS," ujarnya kepada CNNIndonesia.com, Kamis (11/10).
Begitu pula dengan sentimen perang dagang. Sebab, hal ini juga menjadi salah satu pertimbangan IMF menurunkan proyeksi perekonomian global.
"Ini juga cukup di-highlight oleh IMF," pungkasnya. (uli/bir)