IMF Proyeksi Ekonomi Asia Tahun Depan Turun Jadi 5,4 Persen

Tim, CNN Indonesia | Jumat, 12/10/2018 16:11 WIB
IMF Proyeksi Ekonomi Asia Tahun Depan Turun Jadi 5,4 Persen Logo IMF. (REUTERS/Kim Kyung-Hoon)
Nusa Dua, CNN Indonesia -- Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) memperkirakan rata-rata pertumbuhan ekonomi negara-negara di kawasan Asia akan stabil di angka 5,6 persen pada akhir tahun ini. Namun, tahun depan diperkirakan turun ke kisaran 5,4 persen.

Proyeksi ini dirilis IMF melalui laporan World Economic Outlook (WEO) Oktober 2018 di tengah pertemuan tahunan IMF-World Bank di Nusa Dua, Bali. IMF tidak mengubah proyeksi pertumbuhan ekonomi Asia dari perkiraan terakhirnya di April 2018.

Direktur Departement Asia Pasifik IMF Changyong Rhee mengatakan pertumbuhan ekonomi Asia tetap stabil sampai akhir tahun ini karena fundamental beberapa negara di kawasan tersebut masih tumbuh dengan baik, meski ada tekanan dari ekonomi global.


"Asia telah membuat kemajuan luar biasa selama beberapa dekade dan sekarang berada di garis depan ekonomi global. Pertumbuhan ekonomi Asia menyumbang lebih dari 60 persen ekonomi global," ujar Rhee, Jumat (12/10).


Lebih rinci, ia menjelaskan ekonomi Asia stabil karena perekonomian beberapa negara masih tumbuh meyakinkan. Ia mencontohkan perekonomian China yang diperkirakan tetap stabil di angka 6,6 persen pada tahun ini.

Hal ini karena pemerintah dan bank sentral negara tersebut terus berusaha untuk menjaga stabilitas ekonomi dan sektor keuangan, meski ada tekanan dari perselisihan dagang dengan AS.

Namun, tahun depan ekonomi Negeri Tirai Bambu diperkirakan akan turun ke 6,2 persen. "Ini sudah menperhitungkan tergerusnya ekonomi sekitar 0,7 persen dari tarif impor AS dan pengimbangan sekitar 0,5 persen peluang pertumbuhan dari stimulus pemerintah," katanya.

Kemudian, sumbangan pertumbuhan ekonomi Asia juga diberikan oleh ekonomi negara-negara di kawasan Asia Tenggara khususnya ASEAN+5 yang terdiri dari Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand, dan Filipina. Ekonomi negara ASEAN+5 diperkirakan stabil di angka 5 persen. Rinciannya, ekonomi Indonesia sebesar 5,1 persen, Malaysia 4,7 persen, Singapura 2,9 persen, Thailand 4,6 persen, dan Filipina 6,5 persen.

"Pertumbuhan ekonomi sedikit melambat karena pengaruh ekonomi global, tapi masih cukup stabil. Misalnya Indonesia, diperkirakan bisa tetap menjaga pertumbuhannya di angka 5,1 persen pada 2018-2019," terangnya.


Meski begitu, Rhee bilang, memang beberapa negara di kawasan Asia terpaksa harus meghadapi perlambatan ekonomi sejak tahun ini, misalnya Jepang dan India, yang masing-masing turun 0,1 persen pada tahun ini.

Ekonomi Jepang diperkirakan tumbuh 1,1 persen pada tahun ini dari sebelumnya 1,2 persen berdasarkan WEO April 2018. Namun, pada tahun depan diperkirakan stabil di 1,1 persen. Sedangkan ekonomi India diperkirakan hanya 7,3 persen pada tahun ini dan naik menjadi 7,4 persen pada tahun depan.

Tantangan dan Solusi

Menurut Rhee, meski ekonomi Asia masih stabil dan kuat, namun pertumbuhannya tidak terlepas dari berbagai tantangan, khususnya dari tekanan ekonomi global. Tantangan global itu setidaknya berasal dari tiga hal dan akan memberi pengaruh jangka pendek.

Pertama, pengetatan kebijakan moneter suku bunga acuan bank sentral Amerika Serikat (AS), The Federal Reserve, perselisihan perang dagang antara AS-China, dan kenaikan harga minyak mentah dunia yang terus meningkat. "Dalam jangka pendek, harga minyak bisa berdampak lebih besar dari sekarang," imbuhnya.


Sedangkan untuk jangka panjang, IMF melihat ada tiga hal pula yang memberi pengaruh. Pertama, kelanjutan sektor perdagangan bila perselisihan dagang terus berlangsung. Kedua, pertumbuhan ekonomi yang lebih rendah tahun depan bisa memicu penurunan produktivitas. Ketiga, perkembangan ekonomi digital.

"Digitalisasi bisa memberikan peluang pertumbuhan baru, tapi juga bisa memberikan disrupsi dan risiko. E-commerce dapat menambah produktivitas dan memberikan penerimaan pajak kepada pemerintah, tapi penggunaan robot dan teknologi menggantikan pekerja fisik," terangnya.

Untuk itu, IMF memberi rekomendasi kebijakan kepada para pemerintah negara-negara Asia, yaitu mulai dari membuka diri ke akses pasar yang lebih luas. "Hal ini bisa membuat perdagangan dan pariwisata Asia meningkat lebih besar dan dikenal dunia," ucapnya.

Selain itu, pemerintah negara Asia perlu menyiasati perkembangan ekonomi digital, misalnya dengan meningkatkan lagi pengembangan pendidikan, teknologi, infrastruktur, hingga kebijakan yang mendukung sektor ini ke depan. (uli/agi)