IMF Sebut Utang Global yang Bengkak Ancam Ekonomi Dunia

Tim, CNN Indonesia | Jumat, 12/10/2018 15:04 WIB
IMF Sebut Utang Global yang Bengkak Ancam Ekonomi Dunia Dana Moneter Internasional (IMF) mengingatkan peningkatan utang pemerintah dan swasta merupakan salah satu ancaman bagi ekonomi global. (AFP PHOTO / ANDREW CABALLERO-REYNOLDS).
Jakarta, CNN Indonesia -- Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) mengingatkan peningkatan utang pemerintah dan swasta merupakan salah satu ancaman bagi ekonomi global. Untuk mengatasi persoalan tersebut, seluruh negara diimbau menyusun kebijakan domestik sebagai jaring pengaman keuangan.

Christine Lagarde, Direktur Pelaksana IMF mengatakan utang pemerintah pemerintah dan swasta telah mencapai rekor, yakni US$182 triliun. Angka itu setara dengan 224 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) global.

"Sekitar 60 persen lebih tinggi dibandingkan tahun 2007," ucap Lagarde di Bali, Jumat (12/10).



Lagarde mengatakan kondisi keuangan global saat ini semakin ketat, khususnya bagi negara berkembang (emerging market) seperti Indonesia. Kondisi ini cenderung membuat arus modal asing keluar dari negara berkembang.

"Dengan mudahnya pembalikan arus modal ini dapat meningkat cepat dan berdampak pada masyarakat," jelas Lagarde.

Mengantisipasi hal ini, ia menyarankan kebijakan domestik perlu dilengkapi oleh jaring pengaman keuangan global. Salah satunya, bisa berasal dari peraturan pembiayaan regional (regional financing arrangement).


"Ini dapat dilakukan dengan diiringi lembaga yang sering diminta untuk membantu yaitu IMF. Ini akan memastikan bahwa IMF memiliki sumber daya yang dibutuhkan," ucap Lagarde.

Sebagai informasi, utang pemerintah pada Agustus 2018 telah menembus angka Rp4.363,2 triliun atau 30,3 persen dari PDB yang mencapai Rp14.395,07 triliun. Jumlah itu merupakan rekor terbaru utang pemerintahan Jokowi.

Bila dirinci, jumlah utang pemerintah pada 2015 hanya sekitar Rp3.165,2 triliun atau 27,4 persen terhadap PDB. Kemudian, pada 2016 jumlah utang senilai Rp3.466,9 triliun atau 27,5 persen terhadap PDB. Angka terus bertambah pada 2017 menjadi Rp3.938 triliun atau 29,2 persen terhadap PDB.

(Dinda Audriene Muthmainah/lav)