BI Proyeksi Kebutuhan Dolar AS Masih Tinggi

Tim, CNN Indonesia | Minggu, 14/10/2018 10:28 WIB
BI Proyeksi Kebutuhan Dolar AS Masih Tinggi Bank Indonesia (BI) memproyeksi kebutuhan dolar AS masih tinggi dalam beberapa waktu ke depan, mengingat aktivitas impor masih berjalan. (CNN Indonesia/Dinda Audriene Muthmainah).
Nusa Dua, CNN Indonesia -- Bank Indonesia (BI) memproyeksi kebutuhan valuta asing dalam bentuk dolar AS masih tinggi dalam beberapa waktu ke depan. Kebutuhan dolar AS seiring dengan aktivitas impor yang masih berjalan.

Deputi Gubernur BI Dody Budi Waluyo menyebut impor sebagai sumber defisit transaksi berjalan yang berakibat pada tertekannya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

"Neraca transaksi berjalan selalu di posisi defisit, berarti kebutuhan valas berada di atas pasokan valas-nya," ujarnya di Nusa Dua, Bali, Sabtu (13/10).

Berdasarkan data BI, defisit transaksi berjalan pada kuartal II 2018 melebar US$8 miliar atau telah mencapai tiga persen terhadap PDB. Sebagai perbandingan, pada kuartal I 2018 jumlah defisit transaksi berjalan masih sebesar US$5,7 miliar atawa 2,2 persen terhadap PDB.


Badan Pusat Statistik (BPS) melansir neraca perdagangan Agustus 2018 defisit sebesar US$1,02 miliar secara bulanan. Sementara, sejak awal tahun hingga Agustus 2018 defisitnya mencapai US$4,09 miliar.

"Kalau dilihat pemerintah kan memiliki kebijakan B-20 (pencampuran biodiesel sebesar 20 persen ke dalam Solar untuk nonsubsidi)," imbuh Doddy.

Kemudian, pemerintah juga membatasi impor terhadap beberapa proyek infrastruktur. Hal itu sengaja dilakukan mengingat sejumlah bahan baku dari luar negeri masih dibutuhkan untuk membangun proyek infrastruktur di Indonesia.

"Ada dampaknya yang yang bisa dilihat, suatu kebijakan itu biasanya akan terimplementasi dampaknya pada bulan-bulan selanjutnya," ucap Doddy.


Tinggi atau rendahnya kebutuhan valas berdenominasi dolar AS akan mempengaruhi pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Doddy melihat beberapa kebijakan pemerintah yang menekan impor bisa menolong neraca perdagangan untuk surplus, sehingga berpengaruh positif pada neraca transaksi berjalan.

"Lalu bagaimana untuk menggenjot persediaan valasnya? Ya kan sektor pariwisata akan difokuskan , begitu juga manufaktur, jadi positif untuk neraca transaksi berjalan," papar Doddy.

Dalam hal ini, sektor pariwisata dan manufaktur disebut-sebut akan membawa banyak devisa ke dalam negeri. Untuk itu, melalui kebijakan pemerintah terhadap pembatasan impor, maka BI optimistis kondisi neraca transaksi berjalan ke depannya bisa lebih baik.

Seperti diketahui, cadangan devisa (cadev) Indonesia per Agustus 2018 tergerus US$400 juta menjadi US$117,9 miliar dari posisi Juli 2018 sebesar US$118,3 miliar. Penurunan itu dipengaruhi oleh pembayaran utang luar negeri pemerintah dan stabilisasi nilai tukar rupiah.


"Selama satu minggu ini saya bertemu banyak investor, semua melihat Indonesia masih cukup menarik," tandas Doddy.

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan memproyeksi neraca transaksi berjalan bisa seimbang atau tak lagi defisit pada 2020 mendatang. Hal ini dipengaruhi oleh kebijakan B-20 dan peningkatan sektor pariwisata di Indonesia.


(aud/bir)