Sukuk Berbasis Wakaf Tunai Diklaim Berbiaya Rendah

Tim, CNN Indonesia | Minggu, 14/10/2018 15:50 WIB
Sukuk Berbasis Wakaf Tunai Diklaim Berbiaya Rendah Ilustrasi pembiayaan melalui sukuk. (REUTERS/Nyimas Laula).
Nusa Dua, CNN Indonesia -- Menteri Keuangan Sri Mulyani menilai produk pembiayaan sukuk berbasis wakaf tunai merupakan inovasi sekaligus alternatif yang dapat digunakan tanpa mengandalkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Sukuk berbasis wakaf tunai merupakan surat berharga negara dengan prinsip syariah. Penerbitannya bisa menggunakan dana wakaf dengan jaminan berupa tanah wakaf. Instrumen ini bisa digunakan untuk pembiayaan proyek berbasis sosial.

Produk ini baru saja diluncurkan oleh Bank Indonesia (BI) dan Bank Pembangunan Islam (Islamic Development Bank/IDB) di tengah Pertemuan Tahunan IMF-World Bank 2018 di Nusa Dua, Bali pada Minggu (14/10).


"Ini inovasi yang menarik dalam keuangan Islam. Kolaborasi sukuk dan wakaf dapat menjadi inovasi dalam menyediakan pembiayaan berbiaya rendah untuk menjalankan keberlanjutan ekonomi," ujarnya, Minggu (14/10).

Selama ini, sukuk sudah menjadi salah satu instrumen yang memegang peranan penting ke pertumbuhan ekonomi Indonesia Sebab, tak hanya memberi manfaat diversifikasi instrumen pembiayaan hingga turut membiayai pembangunan proyek infrastruktur, namun juga meningkatkan inklusi keuangan masyarakat.

Ia mencatat setidaknya 93 persen aset keuangan syariah masuk ke penerbitan sukuk. Jumlah penerbitan sukuk negara pun telah mencapai Rp906,1 triliun. Jumlah ini sekitar 17 persen dari total portofolio surat utang pemerintah. "Sukuk memiliki potensi untuk memobilisasi dana," imbuh dia.


Sementara, wakaf sebenarnya juga sudah dikenal oleh masyarakat dan memberi kontribusi kepada ekonomi Tanah Air. Perluasan manfaat wakaf menjadi pembiayaan sangat baik untuk masa depan.

Bagi investor, Ani menilai produk ini bisa menjadi pilihan bagi investor dan filantropis untuk menempatkan dananya di Indonesia. "Skema ini memungkinkan institusi filantropi masuk ke instrumen investasi yang aman," jelas Sri Mulyani.

Di sisi lain, produk ini bisa memberikan kontribusi pada pengembangan sektor ekonomi syariah nasional maupun global. Data Kementerian Keuangan mencatat aset keuangan syariah di Indonesia telah mencapai lebih dari US$80 miliar. Di dunia, penerbitan sukuk sebesar US$97,9 miliar atau tumbuh 45,3 persen pada 2017 dibandingkan 2016.


Hal ini menandakan bahwa sukuk menjadi salah satu andalan pembiayaan di nasional maupun global. Tak heran, selisih permintaan dan penawaran (supply and demand) sukuk terus meningkat dari tahun ke tahun.

Menurutnya, rentang antara pasokan dan permintaan mencapai US$178 miliar pada 2018 dan diperkirakan meningkat menjadi US$271 miliar pada 2021. "Ini potensi yang sangat besar, sehingga perlu didukung secara berkelanjutan," pungkasnya.


(uli/bir)