Harga Minyak Terkerek Memanasnya Hubungan Arab-AS

Tim, CNN Indonesia | Selasa, 16/10/2018 07:00 WIB
Harga Minyak Terkerek Memanasnya Hubungan Arab-AS Ilustrasi. (CNN Indonesia/Galih Gumelar)
Jakarta, CNN Indonesia -- Harga minyak naik pada perdagangan Senin (15/10) waktu AS terodorong memanasnya hubungan AS-Arab Saudi akibat hilang jurnalis Jamal Khashoggi di Konsulat Arab. Di saat bersamaan, harga minyak mendapat tekanan dari proyeksi jangka panjang pada permintaan yang melemah.

Dilansir dari Reuters, Selasa (16/10), harga minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Desember menguat US#0,35 menjadi US$80,78 per barel. Penguatan juga terjadi pada harga minyak mentah berjangka AS, West Texas Intermediate (WTI) sebesar US$0,44 menjadi US$81,78 per barel.

Pekan lalu, kedua harga acuan merosot lebih dari empat persen akibat gejolak di pasar saham.


Arab Saudi merupakan salah satu produsen minyak mentah terbesar di dunia. Kenaikan tensi geopolitik antara Arab Saudi dan AS yang merupakan konsumen minyak mentah terbesar di dunia, telah menopang harga minyak mentah pada awal pekan ini.
Arab Saudi telah mendapatkan tekanan sejak Jamal Khashoggi, seorang jurnalis pengkritik kerajaan Saudi dan warga negara AS, menghilang setelah mengunjungi konsulat Arab Saudi di Istanbul Turki pada 2 Oktober lalu.

Presiden AS Donald Trump telah mengancam bakal mengenakan hukuman berat jika Khashoggi terbukti dibunuh di konsulat. Sementara, Arab Saudi menyatakan bakal melakukan aksi balasan.

Pernyataan keduanya mengemuka di saat pasar global berada pada masa kritis akibat rencana sanksi AS terhadap Iran yang bakal berlaku mulai 4 November 2018. AS tetap berupaya untuk memangkas ekspor minyak mentah Iran hingga ke level nol.

Saat ini, berdasarkan data pengiriman tanker dan pelaku industri, Turki dan Italia merupakan pembeli terakhir minyak mentah Iran di luar China, India, dan Timur Tengah. Beberapa produsen menyatakan bakal mengerek produksi di tengah penurunan ekspor Iran.

Sementara itu, Iran berencana untuk mengerek impor minyak mentah dari pelabuhan di bagian selatan menjadi 4 juta barel per hari (bph) pada kuartal I 2019. "Jika Arab Saudi tidak melakukan upaya penyelamatan saat sanksi Iran berlaku, pasar akan sangat kekurangan pasokan. Hal itu merupakan ketakutan yang menyebabkan kenaikan harga lebih tinggi," ujar Analis Price Futures Group Phil Flynn di Chicago.
Kendati demikian, sebagian premi risiko dikeluarkan dari pasar pada awal pekan ini saat Trump membuka kemungkinan hilangnya Khasoggi akibat pembunuh bayaran. Di sisi lain, harga mendapatkan tekanan pada Jumat (12/10) setelah Badan Energi Internasional (EIA) menyatakan pasokan pasar mencukupi untuk sekarang dan memangkas proyeksi pertumbuhan permintaan minyak global untuk tahun ini dan tahun depan.

Sekretaris Jenderal Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) pekan lalu menyatakan pasokan pasar mencukupi dan ada kekhawatiran terjadi kelebihan pasokan pada tahun depan.

Pelaku pasar juga menaruh perhatian pada melemahnya harga bensin. Premi bensin terhadap WTI menurun menjadi US$9,49 per barel, terendah sejak Februari 2017.

Menurut Presiden Ritterbushch and Associates Jim Reitterbusch, kolapsnya pasar bensin memberikan tekanan penurunan harga pada pasar minyak mentah. Hal itu mengimbangi sentimen dari kondisi geopolitik di Arab Saudi.
(sfr/agt)