Wakil Presiden Direktur BCA Eugene K. Galbraith mengatakan perolehan laba bersih ditopang oleh pendapatan bunga bersih dan operasional yang tumbuh 10,1 persen dari Rp41,7 triliun menjadi Rp45,9 triliun.
Pendapatan bunga bersih dan operasional didapat dari penyaluran kredit yang melejit hingga 17,3 persen mencapai Rp516 triliun. "Pertumbuhan kredit yang lebih tinggi terjadi pada kredit investasi dan modal kerja," ucapnya di Hotel Kempinski Jakarta, Kamis (25/10).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kredit korporasi naik cukup tinggi, khususnya untuk perusahaan yang bergerak di bidang jasa keuangan seperti bank. Lalu, ada juga telekomunikasi, minyak sawit mentah, infrastruktur, misanya energi, dan lainnya," jelasnya.
"Untuk rasio NPL sebenarnya tidak begitu ada perubahan yang berarti karena situasi NPL kami meski lebih baik, tapi memang sudah berada di rentang toleransi risiko kami," katanya.
Lebih lanjut, upaya BCA untuk menyalurkan kredit lebih kencang juga didukung oleh ketersediaan likuiditas yang mencukupi. Tercatat, rasio kredit terhadap pendanaan (Loan to Funding Ratio/LFR) yang sebesar 80,9 persen. Begitu pula dengan rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) sebesar 23,2 persen.
Pertumbuhan CASA didukung oleh meningkatnya dana giro sekitar 12,7 persen menjadi Rp163,1 triliun dan tabungan 10,8 persen menjadi Rp313,7 triliun. Sayangnya, DPK dari deposito justru 'melempem', yaitu turun 6,4 persen menjadi Rp137,1 triliun.
"Meski menurun secara tahunan, tapi dana deposito sebenarnya meningkat sejak Maret 2018 sejalan dengan tren kenaikan suku bunga deposito," terangnya.
Sementara beban operasional (Biaya Operasional Pendapatan Operasional/BOPO) bank sebesar 60,2 persen atau meningkat dari 59,9 persen. Sedangkan margin bunga bersih (Net Interest Margin/NIM) turun tipis dari 6,2 persen menjadi 6,1 persen. Namun, aset bank mencapai Rp798,96 triliun atau meningkat 8 persen.