Sri Mulyani memberikan contoh anak Sekolah Dasar (SD). Walaupun masih SD mereka sudah memahami soal utang. Tidak hanya itu, ia menyebut orang di desa juga mulai tertarik dengan bahasan utang negara.
Kondisi terlepas dari pengaruh perkembangan teknologi komunikasi."Kemarin saya ikut Kementerian Keuangan mengajar anak kelas lima SD mereka sudah tahu tentang utang," ujarnya di Kampus Unika Atma Jaya, Jumat (26/10).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di sisi lain Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tidak cukup untuk mendanai kebutuhan infrastruktur. Oleh karena itu, pemerintah harus mengambil utang untuk menutupi kebutuhan tersebut.
"Bukannya APBN tidak boleh utang," tegasnya.
Lihat juga:Saat Peluit Utang Era Jokowi Ditiup Nyaring |
Sri Mulyani juga menegaskan APBN merupakan instrumen atau alat untuk mencapai tujuan bernegara. Sebagai instrumen APBN bisa didesain surplus atau defisit tergantung dari tujuan ekonomi negara.
Akan tetapi, beberapa orang seolah melupakan bahwa APBN merupakan instrumen. Mereka menjadikan APBN sebagai tujuan."Dalam retorika politik akhir-akhir ini, orang lupa kebijakan fiskal adalah instrumen mengelola ekonomi. Dan orang sering dalam diskusi dan perdebatan melupakan itu. Dan instrumen kadang bisa jadi tujuan, apalagi sebagian kebijakan fiskalnya dipenggal, katakanlah seperti utang," ujarnya.
Untuk informasi, pada kuartal III 2018 posisi utang pemerintah mencapai Rp4.416,37 triliun, yang terdiri dari Surat Berharga Negara (SBN). Sedangkan rasio utang terhadap Produk DOmestik Bruto (PDB) sampai September 2018 sebesar 30,47 persen. (ulf/agt)