Pencucian Uang Miliaran Rupee Libatkan Warga Miskin Pakistan

AFP, CNN Indonesia | Senin, 29/10/2018 03:12 WIB
Pencucian Uang Miliaran Rupee Libatkan Warga Miskin Pakistan Ilustrasi warga miskin Pakistan. (REUTERS/Akhtar Soomro)
Jakarta, CNN Indonesia -- Mohammad Rasheed, sopir becak di Pakistan menjadi salah satu korban pencucian uang yang sempat melihat dana hingga tiga miliar rupee Pakistan dalam rekening banknya.

Dilansir dari AFP, sebagai tukang becak, Rasheed membutuhkan waktu satu tahun untuk menghemat 300 rupee Pakistan agar bisa membelikan sepeda untuk anak perempuannya.

"Saya mulai berkeringat dan menggigil," kata Rasheed ketika melihat uang tersebut dalam rekening banknya.


Rasheed merupakan salah satu korban kejahatan dari skema pencucian uang di bawah masa pemerintahan Perdana Menteri Pakistan, Imran Khan. Khan sendiri telah bersumpah untuk menghancurkan skema kejahatan pencucian uang tersebut.

Rasheed sempat ingin bersembunyi ketika dihubungi oleh Federal Investigation Agency terkait dana miliaran Rupee Pakistan yang masuk ke rekeningnya. Beruntung, keluarga dan teman-teman Rasheed berhasil meyakinkan pria berumur 43 tahun itu untuk bekerja sama dengan pejabat pemerintahan.

Kasus ini bukan yang pertama di Pakistan. Beberapa hari terakhir isu serupa telah mengisi halaman koran di Pakistan.

Kejadian seperti Rasheed juga dialami oleh beberapa warga miskin di Pakistan. Rekening warga miskin di negara itu tiba-tiba dibanjiri uang dan tiba-tiba dikosongkan. Dari skema pencucian ini, ratusan juta dolar AS keluar dari Pakistan.

Untungnya, nama Rasheed sudah dibersihkan karena ia mau kooperatif dengan pemerintah. Kendati begitu, bukan berarti kekhawatirannya hilang sepenuhnya. Ia mengaku tetap cemas setelah mendapati ada tiga miliar rupee Pakistan dalam rekeningnya.

"Saya berhenti mengendarai becak yang saya sewa karena ketakutan bahwa beberapa agen penyelidik lain akan menjemput saya. Istri saya jatuh sakit karena ketegangan," cerita Rasheed.

Walaupun begitu, cerita Rasheed tak sepenuhnya duka karena ia akhirnya bisa membelikan sepeda dengan ban bekas untuk putrinya melalui uang yang ia kumpulkan dengan jerih payahnya senilai 300 rupee Pakistan.

Khan, sebagai Perdana Menteri Pakistan yang baru diangkat bersumpah untuk memberantas korupsi dan memulihkan keuangan negara yang tersedot dari negara. "Aku tidak akan melindungi orang yang korupsi di negara ini," tutur Khan.

Sayangnya, tak semua korban pencucian uang berakhir damai. Korban lainnya bernama Mohammad Qadir justru berakhir mengenaskan karena namanya sudah terlanjur buruk di mata masyarakat akibat transaksi atas nama dirinya dengan nilai 2,25 miliar rupee Pakistan.

"Saya bahkan belum pernah melihat bank dari dalam," ujar Qadir.

Sejak kisahnya menyebar, Qadir yang merupakan penjual es krim berusia 52 tahun selalu kena ejekan warga sekitar. Selain itu, ia juga selalu merasa ketakutan ada pihak yang percaya dirinya memiliki uang miliaran rupee Pakistan, sehingga berniat menculiknya dan meminta tebusan besar.

"Orang-orang mengolok-olok saya, tetapi saya tidak mendapatkan apa-apa dari situasi ini. Ini benar-benar tragedi," tutur Qadir.

Korban lainnya, seorang pejabat berumur 56 tahun bernama Sarwat Zehra langsung kena darah tinggi setelah membayar tagihan sebesar 13 juta rupee Pakistan untuk pajak.

"Saya diberitahu bahwa sebuah perusahaan secara ilegal telah meloloskan 14-15 miliar rupee Pakistan melalui rekening saya," cerita Zehra.

Penyelidikan Kejahatan Pencucian Uang

Pada September 2018, Mahkamah Agung (MA) Pakistan membentuk komisi untuk menginvestigasi aliran dana yang masuk dan keluar menggunakan akun palsu. Hasilnya, MA Pakistan menemukan US$400 juta telah melewati ribuan akun palsu menggunakan nama rakyat miskin di Pakistan.

Tak hanya itu, MA Pakistan juga menyimpulkan 600 perusahaan dan individu di Pakistan memiliki kaitan dengan kejadian pencucian uang tersebut.

Hal ini membuat Khan malu karena pemerintahannya sedang berebut untuk miliaran dolar AS dari lembaga keuangan luar negeri. Tak hanya itu, Khan juga sebenarnya sedang berdiskusi dengan IMF mengenai potensi dana talangan di tengah krisis neraca pembayaran Pakistan.

Kejadian pencucian uang ini masuk dalam daftar pengawasan tahun ini oleh Financial Action Task Force (FATF). FATF merupakan sebuah lembaga yang mempromosikan kebijakan nasional dan internasional demi memerangi pencucian uang dan pendanaan teroris. Lembaga ini berbasis di Paris. (aud/wis)