Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengatakan berdasarkan data yang dimilikinya, pada 2010 lalu, rasio perbandingan ekspor produk hulu dengan hilir CPO masih 60 persen banding 40 persen. Tapi, pada 2017 kemarin rasio perbandingan sudah berbalik menjadi 22 persen dibanding 78 persen.
Ia mengatakan keberhasilan tersebut telah menjadikan CPO dan produk turunannya penyumbang ekspor terbesar bagi Indonesia. Pada 2017, nilai ekspor kelapa sawit, CPO dan produk turunannya berhasil mencapai US$22,97 miliar atau Rp349 triliun (kurs Rp15.236 per dolar AS). Capaian tersebut membuat Indonesia mampu menguasai 52 persen pasar ekspor minyak sawit dunia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ekspor produk berbasis kelapa sawit yang didominasi oleh produk hilir bernilai tambah tinggi ini menjadi salah satu penopang perolehan devisa negara dan berkontribusi penting dalam menjaga penguatan nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing," katanya seperti dikutip dari website Kementerian Perindustian, Rabu (31/10).
Kampanye Hitam
"Supaya tahu saja, saya kirim menteri ke Uni Eropa, ke Perancis, ke Belgia, enggak tahu sudah berapa puluh kali untuk urusan agar kita tidak diboikot pasar kita di Uni Eropa," ungkap Presiden.