BKPM Sebut Peringkat Kemudahan Bisnis Berdampak pada Ekonomi

CNN Indonesia | Jumat, 02/11/2018 08:07 WIB
BKPM Sebut Peringkat Kemudahan Bisnis Berdampak pada Ekonomi BKPM mengakui penurunan peringkat kemudahan berbisnis ke 72 akan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi domestik secara keseluruhan. (Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia -- Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mengakui penurunan peringkat kemudahan berbisnis (Ease of Doing Business/EODB) ke 72 akan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi domestik secara keseluruhan. Sebab, investasi memiliki kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi sebesar 32 persen.

"Kalau investasi melambat ya sangat-sangat pengaruh sekali kepada pertumbuhan ekonomi," tutur Lembong, Kamis (1/11).

Terlebih, realisasi investasi semakin lama semakin melorot. Berdasarkan catatan BKPM, jumlah investasi dari Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) dan Penanaman Modal Asing (PMA) kuartal III 2018 atau Juli-September tercatat menurun 1,6 persen menjadi hanya Rp173,8 triliun. Sementara itu, total investasi pada periode yang sama tahun lalu sebesar Rp176,6 triliun.



Walhasil, BKPM mengoreksi target investasi sepanjang 2018 sebesar Rp35 triliun menjadi hanya Rp730 triliun dari sebelumnya yang mencapai Rp765 triliun. Artinya, pertumbuhan investasi tahun ini diperkirakan 5,49 persen dibandingkan dengan realisasi investasi pada 2017 sebesar Rp692 triliun.

"Penurunan target investasi juga pengaruh," imbuh Lembong.

Maka itu, untuk saat ini pemerintah perlu melakukan reformasi kebijakan yang lebih konsisten untuk mendorong investasi di dalam negeri. Menurut Lembong, pemerintah sudah kehilangan fokus melakukan reformasi kebijakan terkait investasi sejak tahun lalu.


"Jadi pada 2015 dan 2016 semua semangat, 2017 mulai hilang fokus. Makanya ini semua harus introspeksi diri kenapa kehilangan fokus," ujar Lembong.

Ia menilai hal ini tidak hanya berlaku bagi pemerintah pusat, tapi juga pemerintah daerah. Realisasi investasi diklaim Lembong cerminan dari regulasi yang diterbitkan pemerintah pada 12 bulan sebelumnya.

"Sekarang pada sisa bulan ini memang harus fokus supaya dongkrak investasi pada 2019," pungkas Lembong.

(aud/lav)