Khawatir Perang Dagang, Jepang 'Rem' Perdagangan ke AS

CNN Indonesia | Senin, 19/11/2018 13:35 WIB
Khawatir Perang Dagang, Jepang 'Rem' Perdagangan ke AS Jepang mulai mengerem transaksi perdagangan, seiring dengan rencana Presiden AS Donald Trump membidik Jepang sebagai sasaran perang dagang berikutnya. (Reuters/Toru Hanai).
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemerintah Jepang agaknya mulai mengerem transaksi dagang ke Amerika Serikat (AS), seiring dengan rencana AS membidik Jepang untuk sasaran perang dagang berikutnya setelah China.

Buktinya, surplus neraca perdagangan Jepang dengan AS tercatat terus menciut. Surplus yang susut tersebut terjadi dalam empat bulan terakhir sampai Oktober 2018.

Mengutip AFP, Senin (19/11), impor minyak mentah dan gas alam cair Jepang dari AS tidak seimbang dibandingkan dengan ekspor mobil dan mesin yang dilakukan Jepang ke AS.


Tercatat surplus perdagangan dengan AS senilai 573,4 miliar yen atau setara US$5 miliar pada bulan Oktober. Nilai ini turun hingga 11 persen jika dibandingkan dengan tahun lalu.

Sebelumnnya, Presiden AS Donald Trump telah melaporkan akan menjadikan Jepang sebagai target berikutnya dalam perang dagang setelah China. Hal ini mendorong Jepang mengurangi perdagangannya dengan AS.

Wakil Presiden Mike Pence juga kembali menegaskan kembali posisi Washington yang pekan lalu bahwa bisnis AS telah menghadapi hambatan tidak adil dengan Jepang.

"AS telah mengalami ketidakseimbangan perdagangan dengan Jepang terlalu lama. Produk dan layanan AS terlalu sering menghadapi hambatan untuk bersaing secara adil di pasar Jepang," kata Mike Pence setelah melakukan perbincangan dengan Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe di Tokyo, mengutip dari AFP.


Pejabat AS dan Jepang diperkirakan memulai pembicaraan perdagangan pada Januari 2019.

Sebagai informasi, Jepang telah membukukan defisit perdagangan global secara keseluruhan hingga 449,3 miliar yen (setara US$4 miliar). Defisit pertama dalam dua bulan terakhir terjadi karena impor naik 19,9 persen, sementara nilai ekspor hanya tumbuh 8,2 persen.

Sementara, defisit perdagangan dengan mitra dagang terbesarnya, China telah melonjak hingga 52,1 persen dan mencatatkan defisit bulanan yang ketujuh secara berturut-turut di tahun ini.


(mjs/bir)