Rupiah Masih Unggul, Menguat ke Posisi Rp14.585 per Dolar AS

CNN Indonesia | Senin, 19/11/2018 16:46 WIB
Rupiah Masih Unggul, Menguat ke Posisi Rp14.585 per Dolar AS Ilustrasi rupiah. (CNN Indonesia/Safir Makki).
Jakarta, CNN Indonesia -- Nilai tukar rupiah berada di posisi Rp14.585 per dolar AS pada perdagangan pasar spot sore ini, Senin (19/11). Posisi ini menguat 26 poin atau 0,18 persen dibandingkan posisi akhir pekan lalu, Jumat (19/11), di Rp14.611 per dolar AS.

Sementara, kurs referensi Bank Indonesia (BI), Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) menempatkan rupiah di posisi Rp14.586 per dolar AS atau menguat tipis dari akhir pekan lalu, Jumat (16/11) di Rp14.954 per dolar AS.

Bersama rupiah, mayoritas mata uang di kawasan Asia turut menguat dari dolar AS. Peso Filipina menguat 0,44 persen, rupee India 0,43 persen, dolar Singapura 0,06 persen, ringgit Malaysia 0,05 persen, dan yen Jepang 0,02 persen.

Meski begitu, beberapa mata uang Asia lainnya terperosok ke zona merah, seperti dolar Hong Kong melemah 0,04 persen, renminbi China minus 0,07 persen, dan baht Thailand minus 0,25 persen.


Begitu pula dengan mata uang utama negara maju, dolar Kanada dan dolar Australia melemah dari dolar AS, masing-masing minus 0,04 persen dan minus 0,18 persen.

Namun, mayoritas masih menguat dari mata uang Negeri Paman Sam. Misalnya, poundsterling Inggris menguat 0,28 persen, rubel Rusia 0,19 persen, franc Swiss 0,12 persen, dan euro Eropa 0,05 persen.

Analis Monex Investindo Dini Nurhadi Yasyi mengatakan pergerakan rupiah hari ini cenderung menguat secara terbatas. Hal ini karena ada ketidakpastian dari sentimen global yang terjadi pada akhir pekan. Sedangkan pada awal pekan ini belum ada sentimen baru yang bisa menopang pergerakan mata uang Garuda.

Pertama, sentimen ketidakpastian datang dari perang dagang antara AS dengan China. Sebab, Presiden AS Donald Trump sempat memberi sinyal mempertimbangkan kenaikan tarif bea masuk impor terhadap produk-produk asal China.


"Ini seakan menghargai upaya China yang masih mau melakukan pembicaraan dengan AS. Tapi, para pelaku pasar seakan skeptis (dengan sinyal in)," ucap Dini kepada CNNIndonesia.com, Senin (19/11).

Kedua, proses keluarnya Inggris dari Uni Eropa (Britania Exit/Brexit). Meski kesepakatan Brexit sudah dipegang dan akan diumumkan pada pekan depan, namun rupanya jajaran Perdana Menteri Inggris Theresia May masih banyak yang tak menyetujui hasil negosiasi. Hal ini turut memberi ketidakpastian karena dikhawatirkan bakal merembet dampaknya ke ranah politik.

Ketiga, pernyataan terbaru dari bank sentral AS, The Federal Reserve yang memberikan sinyal tidak akan agresif (dovish) pada Desember 2018. Karena mempertimbangkan kestabilan pertumbuhan ekonomi dunia.

"Ada indikasi The Fed seakan mempertimbangkan lagi kenaikan suku bunganya, karena probabilitasnya turun," terang dia.


Sementara sentimen dari domestik, Dini bilang, pasar mulai merasa kebijakan bank sentral nasional yang mengerek bunga acuan lebih awal sebagai bentuk antisipasi ada benarnya. BI, dianggap sengaja mengerek bunga acuan untuk memanfaatkan momentum penguatan rupiah, sehingga ketika melemah nanti, tidak jatuh terlalu dalam.

"Apalagi kalau benar probabilitas (kenaikan bunga acuan) The Fed menurun, rupiah justru lebih berpeluang untuk menguat," pungkasnya.


(uli/bir)