Fokus Bisnis Gas Alam, Qatar Hengkang dari OPEC

CNN Indonesia | Selasa, 04/12/2018 10:05 WIB
Fokus Bisnis Gas Alam, Qatar Hengkang dari OPEC Ilustrasi OPEC. (REUTERS/Ramzi Boudina)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemerintah Qatar memutuskan hengkang dari Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC), setelah bergabung selama 60 tahun. Mereka menyatakan akan fokus dalam eksplorasi gas bumi.

Keputusan itu disampaikan oleh perusahaan minyak negara, Qatar Petroleum, melalui seri cuitan di Twitter. Mereka menyatakan resmi hengkang dari lembaga 'kartel' minyak bumi itu mulai 1 Januari 2019.

"Keputusan keluar dari OPEC mencerminkan sikap Qatar yang ingin fokus untuk mengembangkan dan menambah produksi gas alam," kata Menteri Energi Qatar, Saad Sharida Al-Kaabi, seperti dilansir CNN, Senin (3/12).

Dengan keputusan itu, OPEC tidak bisa mengatur Qatar dalam bisnis gas alam karena mereka tak berwenang. Di sisi lain, Qatar juga menyatakan keputusan itu tidak didasarkan atas pertikaian ekonomi dan politik dengan sejumlah negara di kawasan teluk, yakni Arab Saudi dan Uni Emirat Arab.



Qatar tetap menjadi pemain utama dalam bisnis gas bumi, dan mampu memasok sekitar 30 persen permintaan di seluruh dunia.

"Untuk meraih tujuan kami, maka kami harus fokus, berkomitmen, dan mendedikasikan seluruh tenaga untuk memperkuat posisi Qatar sebagai produsen utama gas alam," ujar Al-Kaabi.

Pertikaian antara Arab Saudi dan UEA dengan Qatar sudah berusia 18 bulan. Sebagai gantinya, mereka memilih fokus melakukan eksplorasi gas alam.


Lagipula selama ini hasil produksi minyak Qatar juga tidak terlampau banyak, dibandingkan dengan Saudi dan Irak. Mereka paling banyak hanya sanggup memproduksi 600 ribu barel per hari. Namun, tetap saja langkah mereka ambil mengejutkan, lantaran OPEC berencana melakukan pertemuan di Wina, Austria pada pekan ini guna membahas memangkas produksi minyak supaya harganya naik.

"Keputusan Qatar mundur dari OPEC memang membuat kaget, tetapi sepertinya pengaruhnya kecil dalam pasar minyak bumi," kata analis Economist Intelligence Unit, Peter Kierna.

Sedangkan 15 negara anggota OPEC diperkirakan memasok 44 persen kebutuhan minyak mentah. Mereka yang menjadi penentu kapan produksi dinaikkan atau dipangkas untuk menjaga kestabilan harga minyak.
(ayp)