Masuk Level Rp14.570 per Dolar AS, Rupiah 'Keok' Lagi

CNN Indonesia | Kamis, 06/12/2018 16:57 WIB
Masuk Level Rp14.570 per Dolar AS, Rupiah 'Keok' Lagi Ilustrasi nilai tukar rupiah. (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia -- Nilai tukar rupiah pada perdagangan, Kamis (6/12) sore melemah ke level Rp14.570 per dolar AS. Posisi ini melemah 118 poin atau 0,82 persen dari Rabu (5/12) kemarin yang di Rp14.402 per dolar AS.

Sementara kurs referensi Bank Indonesia (BI), Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) menempatkan rupiah di posisi Rp14.507 per dolar AS atau melemah dari kemarin di posisi Rp14.383 per dolar AS.

Di kawasan Asia, rupiah lagi-lagi menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam. Diikuti rupee India yang melemah 0,76 persen, won Korea Selatan minus 0,61 persen, dan renminbi China minus 0,51 persen.



Kemudian, baht Thailand melemah 0,28 persen, ringgit Malaysia minus 0,25 persen, dolar Singapura minus 0,25 persen, dan peso Filipina minus 0,13 persen. Hanya yen Jepang dan dolar Hong Kong yang bersandar di zona hijau dengan menguat 0,42 persen dan 0,01 persen.


Begitu pula dengan mata uang utama negara maju yang mayoritas bersandar di zona merah. Dolar Australia melemah 0,65 persen, dolar Kanada minus 0,57 persen, rubel Rusia minus 0,46 persen, euro Eropa minus 0,02 persen, dan poundsterling Inggris minus 0,01 persen. Hanya franc Swiss yang menguat 0,04 persen.

Analis Monex Investindo Dini Nurhadi Yasyi mengatakan rupiah kembali melemah pada hari ini karena kekhawatiran pasar global terhadap perekonomian dunia. Pasar global khawatir pelemahan ekonomi global tahun depan kembali berlanjut sebab, sinyal damai perang dagang antara AS dan China belum meyakinkan.

Kondisi tersebut cukup membebani pergerakan rupiah. Selain itu, perlambatan ekonomi juga turut dikhawatirkan oleh Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak Bumi (Organization of The Petroleum Exporting Countries/OPEC). Pasalnya, bila perlambatan ekonomi benar terjadi, maka bisa saja OPEC akan kembali mengurangi pasokan minyak mentah ke pasar dunia.

"Ini berarti kekhawatiran akan perlambatan ekonomi semakin nyata. Kalau begini tentu akan semakin berdampak ke negara emerging market," ujar Dini kepada CNNIndonesia.com, Kamis (6/12).



Dini mengatakan di tengah masalah global tersebut, rupiah belum mendapatkan kekuatan dari dalam negeri. Sentimen positif dari dalam negeri masih belum bisa menahan pelemahan rupiah.

Sentimen tersebut datang dari pernyataan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati yang menyatakan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2018 bisa hanya sekitar 1,86-1,87 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).

Proyeksi tersebut lebih rendah dari asumsi awal APBN 2018 sebesar 2,19 persen dari PDB. Menurutnya, defisit anggaran bisa ditekan karena penerimaan negara yang meningkat, bahkan bisa mencetak rekor baru capaian lebih dari 100 persen.
Ia memproyeksi penerimaan negara bisa mencapai Rp1.936 triliun atau melebihi asumsi awal sebesar Rp1.894,7 triliun. "Padahal sebenarnya ini bisa jadi support dari dalam, setidaknya membuat batasan rupiah tidak berbalik ke kisaran Rp15 ribu per dolar AS lagi," katanya.
Untuk esok hari, ia memperkirakan rupiah akan bergerak di rentang Rp14.400-14.660 per dolar AS. Pergerakan rupiah esok hari, katanya, akan dipengaruhi oleh data Non-Farm Payroll versi ADP.



(uli/lav)