Defisit Perdagangan Tembus US$2 Miliar pada November 2018

CNN Indonesia | Senin, 17/12/2018 11:34 WIB
Defisit Perdagangan Tembus US$2 Miliar pada November 2018 Konferensi pers di Gedung Badan Pusat Statistik (BPS), Jakarta Pusat. (CNN Indonesia/Yuliyanna Fauzi).
Jakarta, CNN Indonesia -- Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia pada November 2018 mengalami defisit sebesar US$2,05 miliar. Angka defisit ini meningkat dibandingkan Oktober 2018 mencapai US$1,82 miliar.

Sementara secara kumulatif Januari-November 2018, defisit perdagangan telah mencapai US$7,52 miliar. Angka ini juga lebih tinggi dibandingkan Januari-November 2017 yang masih surplus US$12,02 miliar.

Defisit perdagangan terjadi karena nilai ekspor sebesar US$14,83 miliar atau turun 6,69 persen dibandingkan Oktober 2018. Sedangkan impor mencapai US$16,88 miliar atau turun 4,47persen dari bulan sebelumnya.



Dari sisi ekspor, penurunan ekspor terjadi pada sektor minyak dan gas (migas) serta non migas. Ekspor migas tercatat turun 10,75 persen menjadi US$1,37 miiar dan non migas turun 6,25 persen menjadi US$13,46 miliar.

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan penurunan ekspor terjadi karena harga sejumlah komoditas menurun di pasar dunia, baik dari sektor minyak dan gas (migas) maupun non migas.

"Untuk non migas, ada penurunan harga pada komoditas minyak kernel, minyak sawit mentah, batu bara, dan nikel," ujarnya di Gedung BPS, Senin (17/12).

Secara sektoral, penurunan ekspor disumbang oleh sektor migas yang turun 10,75 persen menjadi US$1,37 miliar dan industri pengolahan turun 8,12 persen menjadi US$10,68 miliar pada November 2018.


Meski begitu, ekspor sektor pertanian masih meningkat tipis 1,29 persen menjadi US$320 juta dan industri pertambangan naik 1,79 persen menjadi US$2,46 miliar.

"Peningkatan ekspor pertambangan terjadi pada komoditas biji tembaga, biji besih, dan bahan bangunan," katanya.

Berdasarkan negara tujuan, terjadi penuruan ekspor ke India mencapai US$194,8 juta, Swiss US$167,7 juta, dan China US$153,8 juta.k Namun, peningkatan ekspor masih terasa ke beberapa negara, seperti Bulgaria naik US$109,4 juta, Jepang US$78,1 juta, dan Hong Kong US$48,5 juta.

Sementara dari sisi impor, penurunan terjadi karena impor migas turun 2,8 persen menjadi US$2,84 miliar dan non migas turun 4,8 persen menjadi US$14,04 miliar. "Impor migas terjadi pada minyak mentah, hasil minyak, maupun gas," ungkapnya.


Berdasarkan jenisnya, penurunan impor terjadi pada barang modal sebesar 5,92 persen menjadi US$2,59 miliar. Lalu, barang baku/penolong turun 4,14 persen menjadi US$12,86 miliar dan barang konsumsi turun 4,7 persen menjadi US$1,43 miliar.

"Impor konsumsis turun pada produk buah-buahan dari China, seperti anggur, jeruk mandarin, pear, dan lainnya. Lalu, impor bahan baku turun pada gandum dan kedelai. Sedangkan bahan modal seperti mesin motor," terangnya.

Berdasarkan negara tujuan, peningkatan impor terjadi dari China sebanyak US$70,4 juta, Inggris US$43,5 juta, dan Uni Emirat Arab US$36,3 juta. Sedangkan penurunan impor terjadi dari Jepang US$225,3 juta, Thailand US$128 juta, dan India US$87,7 juta. (uli/lav)