Defisit Dagang, Darmin Salahkan Penurunan Permintaan Global

CNN Indonesia | Rabu, 19/12/2018 09:17 WIB
Defisit Dagang, Darmin Salahkan Penurunan Permintaan Global Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution mengatakan defisit neraca perdagangan yang November kemarin tembus US$2,05 miliar disebabkan penurunan permintaan dunia. (CNN Indonesia/Christie Stefanie)
Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution menilai penurunan kinerja neraca perdagangan pada November 2018 terjadi akibat penurunan permintaan pasar dunia terhadap produk ekspor tanah air.

Penurunan permintaan dipicu koreksi pertumbuhan ekonomi global dan sejumlah negara serta efek dari perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China. Selain itu, penurunan permintaan juga disebabkan oleh peningkatan tarif impor oleh beberapa mitra dagang, salah satunya India.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), neraca perdagangan mengalami defisit US$2,05 miliar secara bulanan pada November 2018. Sementara secara tahun berjalan, defisit perdagangan mencapai US$7,52 miliar pada Januari-November 2018.



"Kalau dilihat ekspor Indonesia ke AS turun, ke China turun. Kemudian, ke India juga turunnya banyak, bahkan jauh dibandingkan ke China dan AS," ujar Darmin di kantornya, Selasa (18/12).

Lebih rinci, berdasarkan data BPS, nilai ekspor Indonesia ke AS merosot 77,3 persen dari US$1,53 miliar pada Oktober 2018 menjadi US$1,45 miliar pada November 2018. Hal yang sama juga terjadi pada kinerja ekspor Indonesia ke China yang turun 153,9 persen dari US$2,16 miliar menjadi US$2,01 miliar.

Sementara nilai ekspor ke India terjun lebih dalam hingga 194,8 persen dari US$1,32 miliar menjadi US$1,13 miliar pada periode yang sama. Menurut Darmin, khusus untuk India, penurunan ekspor tidak hanya terjadi karena penurunan permintaan.

Penurunan juga terjadi akibat ada peningkatan tarif bea masuk impor bagi produk Indonesia. Negeri Bollywood itu mengerek tarif bea masuk impor bagi komoditas minyak sawit mentah (Crude Palm Oils/CPO) dari kisaran 30 persen menjadi 44 persen.

"Karena CPO Indonesia terlalu mendominasi di sana, negaranya bikin bea masuk gede-gedean," katanya.


Meski begitu, Darmin menampik isu bahwa defisit neraca perdagangan kembali anjlok karena struktur industri di Tanah Air lemah. Hal itu merujuk pada masih minimnya kemampuan industri domestik untuk memenuhi kebutuhan bahan baku di dalam negeri.

"Ini bukan karena struktural ekonomi yang lemah, tapi respons dari beberapa peristiwa perang dagang dan penghambatan CPO terlalu cepat," tekannya.

Bersamaan dengan penurunan kinerja neraca perdagangan Indonesia sepanjang tahun ini, Darmin bilang pemerintah bakal kembali mengeluarkan kebijakan untuk menggenjot kinerja ekspor pada tahun depan.

Menurutnya, kebijakan ini lebih mengarah pada upaya diversifikasi komoditas dan pasar tujuan ekspor. Sayangnya, Darmin masih enggan merinci kebijakan yang tengah dipersiapkan itu. "Kami masih mencari juga kebijakan baru untuk mendorong ekspor," pungkasnya.

(uli/agt)