Jokowi mengatakan keyakinan tersebut didapatnya setelah mendapat penjelasan Menteri Koordinator bidang Perekonomian Darmin Nasution. "Tadi Pak Menko Perekonomian membisiki saya, kurang lebih 5,17 persen. Ini belum dihitung," jelas Jokowi di Bursa Efek Indonesia, Jumat (28/12).
Jokowi tak menyebut komponen apa saja yang akan menjadi penopang ekonomi dalam negeri sehingga bisa tumbuh 5,17 persen. Ia berharap pertumbuhan salah satunya akan ditopang daya beli masyarakat. Ia menilai daya beli masyarakat seiring pengendalian inflasi yang baik dari pemerintah, masih baik dan bisa mendorong pertumbuhan ekonomi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Yang penting bukan hanya pertumbuhan ekonomi namun juga inflasi. Inflasi dipastikan lebih rendah dibanding tahun lalu, hanya angkanya di tiga koma sekian, tidak tahu berapa, tapi di bawah tahun lalu," jelasnya.
Salah satu kebijakan berkaitan dengan investasi. Agar investasi bisa kian semarak, pemerintah terus memperbaiki iklim investasi dengan mempermudah dan menyederhanakan proses perizinan. Selain itu, pemerintah juga sudah menebar banyak insentif fiskal untuk investor.
Ia berharap, kebijakan tersebut bisa mendorong investasi masuk, khususnya yang berorientasi ekspor dan memproduksi substitusi impor. Data BPS menunjukkan, neraca perdagangan mengalami defisit US$7,51 miliar antara Januari hingga November tahun ini. Kondisi ini berbanding terbalik dengan periode yang sama tahun sebelumnya, di mana Indonesia mencatat surplus neraca perdagangan hingga US$12,08 miliar.
"Kami akan lihat lagi kebijakan yang telah kami lakukan, tentu ada koreksi, evaluasi, dan tambahan-tambahan kebijakan yang kami harapkan bisa mempercepat. Terutama untuk investasi yang berorientasi ekspor atau investasi yang mengganti substitusi impor," pungkas dia.