Pasar Modal RI Terbaik Kedua di Asia Pasifik, Bukan di Dunia

CNN Indonesia | Rabu, 02/01/2019 12:08 WIB
Pasar Modal RI Terbaik Kedua di Asia Pasifik, Bukan di Dunia Menko Darmin Nasution menegaskan kinerja pasar modal RI terbaik kedua di Asia Pasifik, bukan di dunia. Bahkan, IHSG terkoreksi sepanjang tahun lalu. (CNN Indonesia/Andry Novelino).
Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution menegaskan bahwa kinerja pasar modal RI terbaik kedua di Asia Pasifik, setelah India. Pernyataan ini sekaligus mengoreksi klaim Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang menyebut pasar modal Indonesia terbaik kedua di dunia.

Pada penutupan perdagangan efek akhir pekan lalu, Jumat (28/12), Jokowi menyebutkan indeks tahunan pasar modal RI hanya kalah dari India. Pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepanjang tahun lalu sebesar 2,69 persen dari 6.366 di awal tahun menjadi 6.194,5 di akhir tahun.

Seolah mengoreksi pernyataan tersebut, Darmin bilang sebetulnya IHSG sepanjang tahun lalu terkoreksi. Namun, beruntung, penurunannya lebih rendah ketimbang bursa saham di negara-negara Asia Pasifik.


"Boleh dikatakan, pasar modal RI menempati posisi kedua terbaik di Asia Pasifik," ujarnya, Rabu (2/1).

Namun demikian, Darmin optimistis kinerja pasar modal dalam negeri akan semakin baik pada tahun ini, baik gerak IHSG maupun jumlah perusahaan yang melakukan penawaran umum saham perdana (IPO).

"Pasar modal sangat penting untuk menjaga integritas. Aturan harus berjalan dengan baik," terang dia.


Diharapkan, integritas akan membuat masyarakat luas turut serta di pasar modal dalam negeri. Apabila masyarakat luas bergabung, maka volume dan jumlah transaksi di pasar modal pun meningkat. Ujung-ujungnya akan berdampak positif pada laju IHSG.

Sekadar informasi, perusahaan yang melantai di bursa efek mencapai 57 emiten pada 2018 lalu. Angka ini meningkat dibandingkan tahun sebelumnya, yaitu 37 perusahaan.

Jokowi sempat berujar bahwa penambahan emiten tahun lalu sebagai indikasi bahwa sektor produksi dan konsumsi Indonesia menggeliat. "Ekonomi kita berada pada transisi dari konsumtif ke produktif, dari yang kurang berkualitas ke berkualitas, meski ekonomi global tidak mendukungnya," imbuh dia.


(aud/bir)