Data Inflasi 2018 dan 'Januari Effect' Topang IHSG Awal Tahun

CNN Indonesia | Rabu, 02/01/2019 07:20 WIB
Data Inflasi 2018 dan 'Januari Effect' Topang IHSG Awal Tahun Ilustrasi pergerakan saham. (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia -- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan menguat pada perdagangan hari ini, Rabu (2/1). Data inflasi sepanjang 2018 yang diperkirakan sesuai proyeksi dan momentum January effect bakal menjadi penggerak IHSG di awal tahun ini. 

Analis Binaartha Sekuritas Muhammad Nafan Aji Gusta Utama memprediksi inflasi 2018 sebesar 3,2 persen. Angka itu sesuai dengan estimasi Bank Indonesia (BI).

"Artinya masih stabil (secara tahunan)," kata Nafan.


Selain inflasi, gejolak harga komoditas juga masih membayangi pasar saham pada awal tahun ini. Sentimen ini bisa jadi ancaman bagi indeks untuk melaju di zona hijau.

"(Dalam sepekan) rentang support IHSG di level 6.158-6.176 lalu resistance-nya 6.212-6.229," terang Nafan.


Sementara itu, Analis Artha Sekuritas Dennies Christoper Jordan mengatakan IHSG masih memiliki kesempatan untuk bergerak di teritori positif. Sebab, transaksi pelaku pasar terdorong oleh sentimen Januari effect.

"Optimisme investor pada awal tahun dan January effect diperkirakan dapat mendorong pergerakan IHSG," papar Dennies melalui risetnya.

January effect bisa diartikan sebagai sebuah fenomena kenaikan harga saham yang terjadi setiap awal tahun, khususnya Januari. Momen ini kerap dimanfaatkan pelaku pasar untuk mendapatkan keuntungan pada awal tahun.


"IHSG diprediksi menguat, support 6.158-6.176 resistance 6.212-6.230," papar Dennies.

Sebagai informasi, IHSG sepanjang 2018 terkoreksi sebesar 2,53 persen ke level 6.194 dari 6.355 pada penutupan 2017 lalu. Namun, kalau dilihat dalam satu pekan saja, indeks tercatat naik tipis 0,5 persen.

Sementara, bursa saham Wall Street berhasil menguat pada perdagangan terakhir tahun lalu. Terpantau, Dow Jones naik 1,15 persen, S&P500 naik 0,85 persen, dan Nasdaq Composite naik 0,77 persen. (aud/agi)