Subsidi Energi di APBN 2018 Bengkak Jadi Rp153,5 Triliun

CNN Indonesia | Rabu, 02/01/2019 18:03 WIB
Subsidi Energi di APBN 2018 Bengkak Jadi Rp153,5 Triliun Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan realisasi belanja subsidi energi membengkak karena ada kenaikan harga minyak mentah di pasar dunia sejak awal 2018. (CNN Indonesia/Andry Novelino).
Jakarta, CNN Indonesia -- Belanja subsidi energi pemerintah dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2018 bengkak sekitar Rp59 triliun sepanjang tahun lalu. Hal ini karena realisasi belanja subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM), elpiji, dan listrik mencapai Rp153,5 triliun per 2 Januari 2019. Padahal, asumsi awal hanya sebesar Rp94,5 triliun.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan realisasi belanja subsidi energi membengkak karena ada kenaikan harga minyak mentah di pasar dunia sejak awal 2018. Meskipun, tren pergerakan harga minyak mentah dunia saat ini menurun.

"Kenaikan harga minyak mentah dunia membuat subsidi BBM dan elpiji meningkat dari asumsi awal," ujar Ani, begitu ia akrab disapa, di Kementerian Keuangan, Rabu (2/1).


Selain itu, peningkatan belanja subsidi energi juga terpengaruh oleh pelemahan nilai tukar rupiah. Rata-rata kurs rupiah senilai Rp14.247 per dolar Amerika Serikat (AS) sepanjang 2018 dengan tingkat depresiasi mencapai 6,89 persen.

Tak ketinggalan, pemerintah juga meningkatkan pembayaran subsidi untuk BBM jenis Solar meningkat dari semula Rp500 per liter menjadi Rp2.000 per liter. Kemudian, ada juga pembayaran utang subsidi listrik pada tahun lalu.

Lebih rinci, sumbangan subsidi energi berasal dari subsidi BBM dan elpiji sebesar Rp97 triliun atau 207 persen dari target awal Rp46,9 triliun. Sementara realisasi subsidi listrik mencapai Rp56,5 triliun atau 118,6 persen dari asumsi Rp47,7 triliun.


Sedangkan realisasi subsidi non energi sebesar Rp63,3 triliun atau 102,5 persen dibanding asumsi awal di APBN 2018 sekitar Rp61,7 triliun. Sedangkan total realisasi subsidi secara keseluruhan sudah mencapai Rp216,8 triliun atau 138,8 persen dari target Rp156,2 triliun.


(uli/bir)