Darmin mengatakan, sejauh ini porsi ekspor Indonesia masih didominasi oleh industri pengolahan dengan nilai US$119,85 miliar, atau 72,28 persen dari total ekspor Indonesia antara Januari hingga November silam. Namun menurut dia, masih ada sektor ekstraktif lain yang belum terjamah dan belum dimanfaatkan sebagai komoditas ekspor, seperti produk kayu, perikanan, dan hortikultura.
"Walaupun saat ini Indonesia fokus ke industri, namun ada beberapa produk sumber daya alam yang belum dikelola secara baik dan masih belum bisa didorong daya saingnya," jelas Darmin, Selasa (8/1).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ketika kurs melemah, harga-harga produk ekspor Indonesia seharusnya lebih murah sehingga seharusnya lebih kompetitif. Menurut data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) tahun lalu, nilai tukar rupiah melemah 6,94 persen sepanjang 2018.
"Ini akan kami telusuri, apa-apa saja yang sedianya membebani ekspor," jelasnya.
Sementara itu, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengatakan ekspor ekstraktif masih dibutuhkan karena industri manufaktur dipandang lebih lambat dalam menumbuhkan ekspor. Ia berdalih, industri manufaktur membutuhkan nilai investasi yang besar serta realisasi yang cukup lama, sehingga kontribusinya ke ekspor baru bisa terjadi beberapa tahun mendatang.
Ia mengaku bahwa industri manufaktur siap untuk melakukan hiliriasi produk hortikultura agar nilai ekspor bisa membesar dalam waktu cepat. Ia mencontohkan satu klaster industri hortikultura di Lampung yang saat ini sudah mencapai tahap hilirisasi, yakni dengan melakukan pengalengan dan pengemasan bagi buah nanas.
"Selain itu, ekspor pisang cavendish juga bisa dikembangkan. Ini memang lebih cepat dikembangkan, karena industri manufaktur tidak bisa respons cepat (terhadap ekspor)," pungkas dia.
Data BPS menunjukkan bahwa nilai ekspor Indonesia antara Januari hingga November 2018 tercatat US$165,81 miliar, sementara nilai impornya ada di angka US$173,32 miliar. Dengan kata lain, Indonesia mendera defisit neraca perdagangan sebesar US$7,51 miliar selama 11 bulan di 2018. (glh/agi)