Seperti halnya rupiah, mayoritas mata uang Asia berbalik arah ke zona hijau. Ringgit Malaysia minus 0,08 persen, dolar Singapura minus 0,06 persen, peso Filipina minus 0,04 persen, yen Jepang minus 0,04 persen, won Korea minus 0,03 persen, baht Thailand minus 0,03 persen. Namun, dolar Hong Kong stagnan.
Begitu pula dengan mayoritas mata uang utama negara maju yang menguat dari dolar AS. Hanya rubel Rusia yang melemah 0,21 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sedangkan poundsterling Inggris menguat 0,18 persen, dolar Kanada 0,17 persen, euro Eropa 0,14 persen, dolar Australia 0,1 persen, dan franc Swiss 0,08 persen.
Meski menguat, namun analis CSA Research Institute Reza Priyambada memperkirakan rupiah masih berpotensi melemah pada hari ini. Pasalnya, penguatan dolar AS diperkirakan masih akan berlangsung.
"Hal ini memberikan kesempatan bagi dolar AS untuk berbalik menguat, sehingga berimbas negatif kepada rupiah," ujarnya, Rabu (9/1).
Sementara dari dalam negeri, pelemahan rupiah terjadi karena mata uang Garuda sudah menguat cukup signifikan dalam beberapa hari terakhir.
"Ini perlu diwaspadai adanya potensi pembalikan arah," pungkasnya. (uli/lav)