Cuan Reksa Dana Saham Anjlok 3,67 Persen di 2018

CNN Indonesia | Selasa, 15/01/2019 12:44 WIB
Ilustrasi. (CNN Indonesia/Safir Makki).
Jakarta, CNN Indonesia -- Mayoritas investor reksa dana saham terpaksa gigit jari sepanjang tahun lalu. Bukannya memberikan imbal hasil (return), tetapi rata-rata kinerja reksa dana tersebut justru minus.

Mengutip data PT Infovesta Utama, rata-rata imbal hasil (return) reksa dana saham minus mencapai 3,67 persen pada 2018. Realisasi itu paling buruk dari reksa dana lainnya, contoh imbal hasil reksa dana pendapatan tetap yang hanya minus 2,2 persen dan campuran sebesar 2,09 persen.

Sementara, reksa dana pasar uang mencatatkan kinerja positif dengan memberikan cuan kepada investor rata-rata sebesar 4,18 persen.


Senior Research Analyst Infovesta Utama Praska Putrantyo menjelaskan kinerja reksa dana saham sangat berkorelasi dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Pada 2018, pasar saham Indonesia turun 2,53 persen ke level 6.194 dari posisi penutupan 2017 lalu yang di level 6.355.


"Sebenarnya IHSG bergerak positif pada kuartal I 2018, tapi setelah itu kan terus turun. Itu juga terjadi pada reksa dana saham," tutur Praska kepada CNNIndonesia.com, Senin (14/1).

Penyebabnya, kata Praska, The Fed yang mulai gencar menaikkan suku bunga acuannya tahun lalu. Walhasil, rupiah kian melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dan pelaku pasar asing banyak yang melarikan investasinya ke luar negeri.

Dengan kondisi itu, Bank Indonesia (BI) terpaksa mengikuti langkah bank sentral Amerika Serikat demi mengamankan mata uang Indonesia yang terus terkapar dan dana asing yang menipis. Walhasil, BI mengerek suku bunga acuannya sebanyak enam kali menjadi 6 persen pada tahun lalu.

Seperti diketahui, kenaikan suku bunga acuan adalah musuh besar untuk IHSG. "Belum lagi juga ada perang dagang antara AS dengan China. Jadi saham rontok semua," jelas Praska.

Cuan Reksa Dana Saham Anjlok 3,67 Persen di 2018Kinerja industri reksa dana 2018. (CNNIndonesia/Asfahan Yahsyi).

Senada, Analis Pasardana Arief Budiman mengklaim penurunan kinerja reksa dana saham lebih disebabkan oleh faktor eksternal. Beruntung, laju IHSG jelang tutup tahun kemarin bergerak positif, sehingga penurunan kinerja reksa dana saham bisa lebih terbatas.

"Akhir November sampai Desember sebenarnya IHSG kan merangkak, itu juga karena ada faktor window dressing," kata Arief.

Window dressing adalah strategi yang biasanya dilakukan oleh perusahaan asset manajemen untuk mempercantik portofolio perusahaan dengan melakukan banyak transaksi beli.


Bahana Hingga BNI Minus

PT Bahana TCW Investment Management menjadi salah satu perusahaan yang tak memberikan cuan kepada investor yang membeli produk reksa dana saham tahun lalu. Sebab, kinerja reksa dana saham perusahaan lebih buruk dari industri.

Direktur Bahana TCW Investment Management Soni Wibowo mengatakan hampir seluruh produk reksa dana saham yang dimiliki perusahaan mencatatkan penurunan kinerja. Menurutnya, reksa dana saham perusahaan turun berkisar 5-9 persen.

"Kinerja turun karena portofolio kami sebagian besar merupakan saham blue chip yang terkena imbas penjualan oleh asing," tutur Soni.


Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), pelaku pasar asing di pasar saham memang tercatat jual bersih (net sell) sepanjang 2018 sebesar Rp50,74 triliun. Bila dirinci, asing sempat masuk sebesar Rp728,93 triliun, tapi mereka juga menarik dananya hingga Rp779,68 triliun.

Sementara, Infovesta Utama merinci beberapa produk reksa dana saham Bahana TCW Investment Management yang turun, antara lain Bahana Primavera 99 minus sebesar 4,76 persen, Bahana Icon Syariah 7,37 persen, Bahana Stellar Equity Fund dan Bahana Trailblazer Fund yang sama-sama minus 8,48 persen, serta Bahana Dana Prima 10,13 persen.

Tak hanya Bahana TCW Investment Management, beberapa produk reksa dana yang dirilis oleh PT BNI Asset Management, PT Sinarmas Asset Management, PT Panin Asset Management, dan PT PT Manulife Aset Manajemen Indonesia juga membukukan kinerja minus.


Namun, masih ada perusahaan asset manajemen yang berhasil memberikan imbal hasil kepada nasabahnya yang mengonsumsi reksa dana saham, misalnya PT Sucorinvest Asset Management.

Jemmy Paul Wawointana, Direktur Utama Sucorinvest Asset Management menjelaskan imbal hasil reksa dana saham sepanjang 2018 bervariasi sekitar 5-18 persen. Ia mengaku manajemen begitu selektif memilih saham yang masuk dalam portofolio reksa dana yang diterbitkan perusahaan.

"Tahun lalu top lima saham kami misalnya ada PT Adhi Karya (Persero) Tbk dan PT Bukit Asam Tbk. Itu yang naik banyak, sisanya kami melakukan trading saham," papar Jemmy.


Ia mengatakan perusahaan selalu mengganti isi portofolio saham dalam produk reksa dananya setiap kuartal. Namun, Jemmy enggan membocorkan saham mana saja yang akan diubah pada kuartal I tahun ini.

Berpotensi Bangkit di 2019

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2