Di kawasan Asia, rupiah memimpin penguatan mata uang pagi ini. Diikuti won Korea Selatan menguat 0,19 persen, baht Thailand 0,13 persen, dolar Singapura 0,07 persen, dan ringgit Malaysia 0,07 persen. Sementara peso Filipina stagnan. Sedangkan dolar Hong Kong melemah 0,01 persen dan yen Jepang minus 0,17 persen.
Begitu pula dengan mata uang utama negara maju, mayoritas berada di zona hijau. Poundsterling Inggris menguat 0,14 persen, dolar Australia 0,14 persen, dolar Kanada 0,11 persen, dan euro Eropa 0,05 persen. Namun, rubel Rusia melemah 0,04 persen dan franc Swiss minus 0,04 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, menurutnya, rentang pergerakan rupiah agak melebar karena pelaku pasar sudah menanti pengumuman neraca perdagangan Indonesia sepanjang 2018 yang akan diumumkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) siang ini.
Sementara data neraca perdagangan setidaknya sudah mencatatkan defisit senilai US$7,52 dalam kurun waktu Januari-November 2018. Terakhir kali, defisit neraca perdagangan bulanan Indonesia mencapai US$2,05 miliar pada November 2018.
Sementara, Analis CSA Research Institute Reza Priyambada menambahkan mata uang Garuda juga bakal mendapat bayang-bayang pelemahan dari penurunan data ekspor-impor China.
"Masih ada kekhawatiran akan semakin parahnya perlambatan di China," pungkasnya.