MRT Jakarta Berpotensi Raup Omzet Rp39 Miliar per Bulan

CNN Indonesia | Selasa, 22/01/2019 20:15 WIB
MRT Jakarta Berpotensi Raup Omzet Rp39 Miliar per Bulan Replika Mass Rapid Transit (MRT) di kawasan Sudirman, Jakarta. (CNNIndonesia/Safir Makki).
Jakarta, CNN Indonesia -- PT MRT Jakarta berpotensi meraup pendapatan sekitar Rp19,5 miliar per bulan pada masa awal moda transportasi mass rapid transportation (MRT) beroperasi, dan bisa mencapai Rp39 miliar saat jumlah penumpang komersil sudah semakin ramai.

Direktur Utama MRT Jakarta William Sabandar mengaku mengusulkan tarif tiket MRT di kisaran Rp8.500-Rp10 ribu per orang kepada Pemerintah Provinsi (Pemrov) DKI Jakarta. Namun, Pemprov DKI Jakarta belum juga memberi keputusan terkait harga tiket yang akan dikenakan kepada masyarakat.

Di sisi lain, jumlah penumpang pada awal masa operasional Maret 2019 ditargetkan sebanyak 65 ribu per hari atau sekitar 1,95 juta orang per bulan. Dalam perhitungan kasar, MRT Jakarta akan meraup pendapatan sekitar Rp16,57 miliar-Rp19,5 miliar pada awal masa operasi.



"Bisa dikali sendiri (jumlah target penumpang dengan harga tiket yang diajukan ke Pemprov DKI Jakarta," kata William, Selasa (22/1).

Kemudian, jumlah penumpang tertingginya diramalkan mencapai 130 ribu dalam sehari atau 3,9 juta orang per bulan jika MRT sudah ramai digunakan publik. Dengan target tersebut, total pendapatan perseroan dari penjualan tiket bisa mencapai kisaran RP33,15 miliar-Rp39 miliar.

"Ini dari tiket, belum termasuk non tiket. Ada hitung-hitungannya nanti. Dari non-tiket itu bisa dari iklan," terang William.

Sementara itu, William menyebut Pemprov DKI baru akan mengumumkan harga tiket MRT pada akhir Februari atau bulan depan. Sebab, operasional MRT akan dimulai pada Maret 2019.


"Sekarang lagi uji coba paralel sampai 26 Februari, nanti setelah itu sampai pekan ketiga Maret namanya uji coba penuh," jelas William.

Dalam uji coba penuh, masyarakat umum bisa ikut menikmati layanan MRT secara gratis. William menyebut maksimal 600 orang per hari bisa mencoba transportasi tersebut.

MRT Jakarta juga bekerja sama dengan Komando Daerah Militer Jayakarta (Kodam Jaya) untuk mengamankan jalannya uji coba paralel dan penuh itu, serta saat MRT beroperasi pada akhir Maret. Kerja sama yang baru diteken keduanya hari ini akan berlaku selama lima tahun ke depan.

"Aspek pengamanannya macam-macam, kami ingin berjalan tanpa hambatan. Seluruh kegiatan berjalan lancar dan masyarakat harus merasa nyaman," pungkas William.

(aud/lav)