"Keseimbangan primer menjadi kekuatan bagi APBN negara," kata Sri Mulyani, Selasa (29/1).
Diketahui, keseimbangan primer sepanjang tahun lalu tercatat surplus Rp4,1 triliun. Realisasi ini menjadi yang pertama kalinya terjadi sejak 2011 lalu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:KSSK Klaim Ekonomi RI Terkendali |
"Penerimaan negara 102,5 persen, penerimaan pajak juga meningkat. Kami akan terus menjaga agar kebijakan fiskal tetap berfungsi untuk menjaga stabilitas pertumbuhan ekonomi," tutur Sri Mulyani.
Dari sisi moneter, Gubernur BI Perry Warjiyo menyebutkan sejumlah langkah pengendalian inflasi dan stabilitas nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Beberapa langkah itu, misalnya menaikkan suku bunga acuan sebanyak tujuh kali, memberlakukan transaksi Domestik Non-Deliverable Forward (DNDF), dan menaikkan pemenuhan GWM rupiah rata-rata dari 2 persen menjadi 4 persen.
"Kami juga memperkuat kerja sama moneter dengan otoritas berbagai negara seperti Singapura dan Tiongkok," terang Perry.
Sementara, sejumlah kebijakan makroprudensial yang dilakukan BI tahun lalu adalah mempertahankan rasio countercyclical capital buffer (CCB) nol persen dan rasio intermediasi makroprudensial dengan target 80-92 persen.
"BI akan terus optimalkan bauran kebijakan untuk memastikan stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan," jelas Perry.
"Kami juga memperkuat kerja sama moneter dengan otoritas berbagai negara seperti Singapura dan Tiongkok," terang Perry.
Sementara, sejumlah kebijakan makroprudensial yang dilakukan BI tahun lalu adalah mempertahankan rasio countercyclical capital buffer (CCB) nol persen dan rasio intermediasi makroprudensial dengan target 80-92 persen.
"BI akan terus optimalkan bauran kebijakan untuk memastikan stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan," jelas Perry.
Adapun, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso menambahkan sektor jasa keuangan dalam negeri tumbuh lebih baik tahun lalu. Hal itu terlihat dari pertumbuhan kredit perbankan sebesar 11,75 persen. Kemudian dari sisi kinerja intermediasi perusahaan pembiayaan yang meningkat 5,17 persen.
"Rasio kredit bermasalah perbankan dan perusahaan pembiayaan juga menurun masing-masing 2,37 persen dan 2,71 persen," pungkas Wimboh.
(aud/agt)
"Rasio kredit bermasalah perbankan dan perusahaan pembiayaan juga menurun masing-masing 2,37 persen dan 2,71 persen," pungkas Wimboh.