Harga Minyak Dunia Menguat Usai Data Pasokan AS Dirilis

CNN Indonesia | Kamis, 31/01/2019 07:29 WIB
Harga Minyak Dunia Menguat Usai Data Pasokan AS Dirilis Ilustrasi kilang minyak. (REUTERS/Raheb Homavandi).
Jakarta, CNN Indonesia -- Harga minyak mentah dunia menanjak pada perdagangan Rabu (30/1), waktu Amerika Serikat (AS), setelah data pengetatan pasokan minyak AS dirilis. Investor juga khawatir terhadap gangguan pasokan jika AS mengenakan sanksi kepada sektor perminyakan Venezuela.

Dilansir dari Reuters Kamis (31/1), harga minyak mentah berjangka AS West Texas Intermediate (WTI) naik US$0,92 atau 1,73 persen menjadi US$54,23 per barel. Kemudian, harga minyak mentab berjangka Brent menguat US$0,33 atau 0,54 persen menjadi US$61,65 per barel.

Harga minyak berlanjut menguat setelah data pemerintah AS menunjukkan stok minyak mentah naik lebih rendah dari ekspektasi pekan lalu, karena impor berkurang.


Badan Administrasi Informasi Energi AS (EIA) mencatat persediaan minyak mentah AS naik 919 ribu barel. Sebagai pembanding, jajak pendapat analis Reuters memperkirakan kenaikan pasokan bakal mencapai 3,2 juta barel.


Sementara itu, stok bensin turun dari level tertingginya seiring perlambatan aktivitas produksi di kilang.

Setelah kenaikan selama delapan pekan berturut-turut, stok bensin turun 2,2 juta barel pekan lalu. Padahal, para analis memperkirakan stok bensin akan menanjak sebesar 1,9 juta barel.

"Laporan ini terlihat mendukung (harga) pada beberapa sisi dengan hal yang paling jelas adalah kenaikan stok minyak mentah yang kurang dari 1 juta barel, lebih rendah dari perkiraan," ujar Presiden Ritterbusch and Associates Jim Ritterbusch dalam catatannya.

Meski kenaikan tipis bukan sesuatu yang luar biasa, namun Ritterbusch membandingkan dengan rata-rata kenaikan dalam 5 tahun terakhir yang mencapai sekitar 7,5 juta barel.


Selanjutnya, pasar juga mendapatkan topangan sejak AS mengumumkan pengenaan sanksi ekspor terhadap Venezuela pada awal pekan ini. Sanksi tersebut bakal membatasi transaksi antara perusahaan minyak AS dan perusahaan minyak pelat merah Venezuela PDVSA.

Pertarungan untuk mengendalikan Venezuela makin memanas dengan sanksi baru yang bertujuan untuk melengserkan kekuasaan Presiden Nicholas Maduro. Saat ini, Venezuela merupakan negara yang memiliki cadangan minyak terbesar di dunia.

Sanksi bertujuan untuk membekukan penjualan ekspor minyak mentah PDVSA sekitar 500 ribu barel per hari (bph) ke AS yang merupakan importir terbesar minyak dari anggota Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC).

Sumber Reuters mengungkapkan pedagang yang menjual minyak mentah Venezuela ke AS tengah mencari cara untuk tetap menyediakan minyak mentah selama periode pengenaan sanksi. Perusahaan AS yang mengimpor minyak juga mencari celah untuk tetap membeli minyak Venezuela misalnya denggan menggunakan pihak ketiga seperti pedagang komoditas.


"Risiko utama untuk pasokan dapat berasal dari konfrontasi dengan kekerasan di dalam negara (Venezuela), yang merusak infrastruktur perminyakan," ujar Analis Julius Baer Carsten Menke.

Namun, menurut Menke, risiko terjadinya kejadian tersebut sangat kecil.

"Minyak ini akan menemukan jalannya ke pasar," ujar Menke. (sfr/lav)