Dibuka menguat di posisi Rp14.040 per dolar AS, rupiah terus bergerak menguat ke posisi Rp13.972 per dolar AS hingga pukul 16.45 WIB.
Penguatan rupiah terjadi seiring dengan pelemahan dolar AS akibat kebijakan bank sentral AS, The Federal Reseve yang memutuskan untuk menahan bunga acuannya di rentang 2,25 persen hingga 2,5 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hanya rupee India dan dolar Hong Kong yang menguat masing-masing 0,06 persen dan 0,04 persen.
Mata uang negara maju juga bergerak menguat terhadap dolar AS. Euro menguat 0,33 persen, poundsterling Inggris 0,11 persen, dolar Kanada 0,08 persen, dan franc Swiss 0,09 persen.
Ibrahim menjelaskan penguatan rupiah tak hanya ditopang sentimen eksternal, tetapi juga sentimen internal. Dari sisi eskternal, menurut dia, penguatan rupiah ditopang kebijakan Fed yang mempertahankan bunga acuannya dan kabar baik dari China soal laporan indeks manufaktur.
"Ini juga hari terakhir negosiasi AS dan China di Washington, sepertinya bakal ada kabar positif," jelas dia.
Sementara sentimen internal berupa proyeksi BI soal surplus neraca pembayaran kuartal IV yang bisa mencapai US$5 miliar, salah satunya akibat defisit transaksi berjalan yang juga diperkirakan menyusut dibanding kuartal sebelumnya.
Ia memperkirakan rupiah besok masih berpeluang bergerak menguat ke posisi Rp13.940 per dolar AS dengan resistensi di Rp14.008 per dolar AS.
"Kurtal I ini memang rupiah kemungkinan besar akan lebih bagus, bisa saja ke Rp13.800 per dolar AS karena perang dagang ada kesepakatan dan ada keputusan soal Brexit," pungkas dia. (agi)