Airbus Jajaki Investasi Bidang Perawatan Pesawat di Batam

CNN Indonesia | Senin, 04/02/2019 14:07 WIB
Airbus Jajaki Investasi Bidang Perawatan Pesawat di Batam Menko Kemaritiman Luhut Panjaitan mengatakan Airbus sedang menjajaki rencana investasi perawatan pesawat di Batam dan Bintan. (CNN Indonesia/Harvey Darian)
Jakarta, CNN Indonesia -- Airbus menjajaki kerja sama dengan PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk dan Lion Air Group untuk masuk dalam bisnis perawatan pesawat (Maintenance Repair and Overhaul) di Batam dan Bintan. Rencananya, manajemen Airbus akan kembali datang ke Indonesia untuk membawa proposal kerja sama lebih detil.

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan mengungkapkan penjajakan dikemukakan oleh President Asia Pacific Airbus Jean Marck Nasr dalam rapat bersamanya Senin (4/2) pagi.

"Mereka mengatakan dalam keputusan direksi dalam rapat (Airbus), Indonesia adalah tempat yang penting (untuk berinvestasi)," kata Luhut, Senin (4/2).



Hanya saja, Luhut mengatakan belum ada skema yang pasti atas kerja sama antara Airbus dengan Garuda Indonesia dan Lion Air Group tersebut. Manajemen Airbus rencananya akan kembali berkunjung ke Kantor Kemenko Perekonomian pada April 2019 mendatang untuk membicarakan kerja sama yang lebih konkret.

"(Nilai investasi) belum tahu saya, belum bicara sampai ke arah sana. Tapi mereka benar-benar mau segera proses," terang Luhut.

Di samping itu, Luhut meminta Airbus untuk memproduksi komponen pesawat di Indonesia melalui kerja sama dengan PT Dirgantara Indonesia (Persero). Salah satu komponen yang bisa dibuat, misalnya ban untuk pesawat.


"Sehingga karet juga bisa diserap, jadi ada permintaan dan penawaran juga," ucap Luhut.

Ia mengklaim Airbus bersedia memenuhi permintaan Luhut untuk menggandeng Dirgantara Indonesia guna membuat sejumlah komponen pesawat di Indonesia. Saat ini, Luhut menyebut Airbus akan menghitung biaya produksi ban dan berapa banyak yang bisa dibuat.

Luhut juga berharap kerja sama ini bisa menyerap tenaga kerja baru. Ia mencontohkan pembuatan satu pesawat berbadan lebar membutuhkan 70 orang.
"Kalau bisa dikerjakan banyak lokasi ya tentu banyak (penyerapan tenaga kerjanya)," pungkas Luhut.

(aud/agt)