BKPM Akui Investasi Bikin Laju Ekonomi Jauh dari Target APBN

CNN Indonesia | Rabu, 06/02/2019 15:20 WIB
BKPM Akui Investasi Bikin Laju Ekonomi Jauh dari Target APBN Kepala BKPM Thomas Lembong mengakui perlambatan investasi sepanjang 2018 menjadi salah satu penyebab pertumbuhan ekonomi tahun lalu di bawah target APBN. (CNN Indonesia/Safir Makki).
Jakarta, CNN Indonesia -- Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mengakui perlambatan investasi sepanjang 2018 menjadi salah satu penyebab pertumbuhan ekonomi tahun lalu di bawah target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan pertumbuhan ekonomi sepanjang 2018 hanya 5,17 persen. Padahal dalam APBN 2018, pemerintah mematok pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,4 persen.

"Jadi memang realisasi investasi 2018 cukup mengecewakan jadi pertumbuhan investasi melambat. Itu menjadi salah satu faktor pertumbuhan ekonomi secara total di bawah keinginan kami," ucap Kepala BKPM Thomas Trikasih Lembong, Rabu (6/2).



Dalam catatan BKPM, pertumbuhan investasi secara keseluruhan sepanjang 2018 hanya 4,1 persen menjadi Rp721,3 triliun dari posisi 2017 sebesar Rp692,8 triliun. Persentase itu melambat dibandingkan dengan realisasi pertumbuhan 2017 yang mencapai 13,1 persen.

"Sebelumnya dua digit, tahun lalu hanya satu digit," imbuh Thomas.

Bila dirinci, realisasi itu terdiri dari Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) sebesar Rp324,8 triliun atau tumbuh 25,3 persen dibanding tahun sebelumnya Rp262,3 triliun. Kemudian, Penanaman Modal Asing (PMA) sebesar Rp392,7 triliun.


Jumlah investasi asing itu jeblok 8 persen pada 2018. Sebab, pada tahun sebelumnya jumlah PMA mencapai Rp430,5 triliun. Thomas menyebut penyebab utama turunnya investasi asing karena perang dagang Amerika Serikat (AS) dengan China.

Kendati demikian, Thomas optimistis jumlah investasi baik dari asing dan lokal bangkit (rebound) tahun ini. Ia mematok pertumbuhan investasi sebesar 9,84 persen sepanjang 2019.
 
"Dengan dialog kami dengan investor besar bahwa mereka semakin nyaman (untuk investasi) karena badai sudah berlalu," tutur Thomas.


Sebagai contoh, tambah Thomas, investor melihat pemilihan presiden (pilpres) 2019 akan berjalan dengan aman dan tertib. Sebab, tidak ada keributan signifikan yang terjadi akibat proses pilpres pada April mendatang. (aud/lav)