BPS Sebut Bagasi Berbayar Bakal Picu Inflasi

CNN Indonesia | Jumat, 01/02/2019 16:03 WIB
BPS Sebut Bagasi Berbayar Bakal Picu Inflasi Ilustrasi. (Istockphoto/dmitriymoroz)
Jakarta, CNN Indonesia -- Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan kebijakan bagasi berbayar kemungkinan besar akan berdampak ke inflasi. Tapi, mereka menyatakan butuh waktu untuk menghitung pengaruh kebijakan pengenaan tarif bagasi kepada inflasi.

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan banyak faktor yang perlu dipertimbangkan sebelum melihat dampak kebijakan maskapai tersebut kepada kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK). Faktor tersebut salah satunya berkaitan dengan skala pemberlakuan kebijakan. 

BPS perlu melihat rute pemberlakuan kebijakan bagasi berbayar dan maskapai yang menerapkan kebijakan tersebut. BPSJ juga perlu melihat porsi penerbangan dengan bagasi berbayar terhadap seluruh jasa penerbangan yang digunakan masyarakat dalam satu periode tertentu.


Selain itu katanya, BPS juga harus memotret penumpang pesawat yang memanfaatkan fasilitas bagasi ketika bepergian. "Tapi secara kasar, kalau memang kebijakan bagasi bikin harga tiket naik, tentu berpengaruh ke inflasi," jelas Suhariyanto di Gedung BPS, Jumat (1/2).


Suhariyanto mengatakan tanpa melihat kebijakan bagasi berbayar, kenaikan tarif tiket pesawat yang terjadi beberapa waktu lalu sudah menjadi salah satu komponen pembentuk inflasi pada Januari kemarin.

BPS mencatat, inflasi tiket pesawat bulan lalu mencapai 0,2 persen. "Kenaikan tiket ini sebenarnya kejadian yang cukup unusual. Biasanya, harga tiket pada Januari ini drop, ketika pemerintah minta turun, baru turun," jelas dia.

Deputi bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Yunita Rusanti melanjutkan, bisa saja tren inflasi tarif tiket pesawat gara-gara kebijakan bagasi berlanjut pada bulan depan. Asal, kalkulasi itu dihasilkan dari data yang memang berkualitas.

Hanya saja, BPS masih perlu melihat data tersebut. Yunita mencontohkan, perhitungan IHK dari tarif pesawat terbang selama ini dilihat dari komponen-komponen yang membentuk harga tersebut.


Tarif pesawat pada bulan lalu seharusnya sudah mencakup biaya bagasi, mengingat sebagian besar maskapai belum melakukan kebijakan bagasi berbayar. Namun, ketika maskapai mulai menerapkan bagasi berbayar, harga tiket pesawat tentu jadi terdistorsi.

Bisa jadi, harga tiket akan menjadi murah, namun tarif bagasi malah melonjak. Di sisi lain, ada kemungkinan harga tiket masih tetap sama, namun ada tambahan biaya bagasi saja.

Akibatnya, perbandingan data tiket pesawat antara bulan kemarin dan bulan ini bisa menjadi tidak seimbang (apple-to-apple). Ujungnya, perhitungan inflasi tarif pesawat bisa kacau dan tidak kredibel.

Untuk itu, BPS akan meminta klarifikasi secara lebih rinci kepada maskapai terkait kontribusi beban bagasi terhadap pembentukan tarif pesawat di periode-periode sebelumnya. Jika angka ini sudah didapatkan, maka BPS bisa memproses inflasi ke tahap berikutnya.

"Kebijakan tarif bagasi ini aneh karena bikin data perbandingan harga antar periode jadi tidak apple-to-apple. Sementara, kalau kami ingin menghitung kenaikan IHK, tentu kualitas data harus seimbang," tutur dia.

(glh/agt)