Ekonom Faisal basri menyebut defisit perdagangan emas turut menyumbang pemburukan transaksi perdagangan pada tahun lalu.
"Jika pada tahun-tahun sebelumnya, kita (Indonesia) menikmati surplus perdagangan emas, pada 2018 berbalik menjadi defisit. Artinya, impor emas lebih besar dari ekspor," jelas Faisal dalam situs pribadinya, dikutip Senin (11/12).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada 2010, Indonesia mengalami surplus US$1,2 miliar, 2011 surplus US$1,61 miliar, 2012 surplus US$1,97 miliar, 2013 surplus US$1,76 miliar, dan 2014 surplus US$1,51 miliar.
Menurut Faisal, defisit perdagangan barang emas turut menyumbang pemburukan transaksi perdagangan barang. Pada tahun lalu, menurut dia, Indonesia pertama kali dalam sejarah mencatatkan defisit perdagangan barangan.
"Untuk pertama kali dalam sejarah, Indonesia mengalami defisit perdagangan barang walau hanya US$431 juta," ungkap Faisal.
Faisal menyebut surplus perdagangan nonmigas yang merosot tajam sebagai biang keladi defisit perdagangan barang.
Berdasarkan data BI, surplus perdagangan nonmigas tahun lalu 'terjun bebas' dari US$25,26 miliar menjadi US$11,17 miliar. Hal ini seiring dengan pertumbuhan impor barang yang mencapai 18,8 persen, sedangkan ekspor hanya tumbuh 6,37 persen. (agi)