Mendag Enggar Terus Kebut Aturan Insentif Ekspor

CNN Indonesia | Rabu, 13/02/2019 09:06 WIB
Mendag Enggar Terus Kebut Aturan Insentif Ekspor Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengaku terus menyiapkan serangkaian kebijakan untuk mempermudah ekspor di masa mendatang. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengaku terus menyiapkan serangkaian kebijakan untuk mempermudah ekspor di masa mendatang. Hal itu dilakukan setelah meluncurkan simplifikasi aturan ekspor kendaraan bermotor dalam bentuk utuh (CBU) pada Selasa (12/2).

"Pemerintah tetap akan melanjutkan berbagai langkah kebijakan untuk kemudahan ekspor. Makanya, ini harus berlanjut. Jadi, pemerintah berlanjut maka kebijakan itu tetap berkelanjutan," ujar Enggartiasto saat menghadiri konferensi pers di Terminal Kendaraan Tanjung Priok, Selasa (12/2).

Sayangnya, rangkaian kebijakan untuk mendorong dan mempermudah ekspor itu masih belum bisa diungkap Enggartiasto.



"Pada saatnya, setelah semua selesai, akan bisa disampaikan langkah-langkah apa saja," ujarnya.

Upaya mendorong ekspor sangat relevan di saat defisit transaksi berjalan Indonesia melebar karena tekanan ekonomi global. Tahun lalu, Bank Indonesia mencatat defisit transaksi berjalan mencapai US$31,1 milliar atau membengkak 79,66 persen dari posisi tahun sebelumnya, US$17,31 miliar.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengungkapkan defisit transaksi berjalan terjadi karena defisit minyak dan gas melebar (migas) yang melebar. Sementara itu, surplus nonmigas mengecil.


Untuk mendongkrak ekspor, pemerintah melakukan perbaikan iklim investasi melalui skema perizinan yang terintegrasi secara online hingga mempermudah prosedur ekspor untuk sejumlah produk.

Dalam jangka menengah panjang, pemerintah telah menyiapkan lima sektor industri utama yang bisa mendongkrak ekspor dan sebagai strategi untuk menghadapi industri 4.0. Kelima industri itu antara lain industri makanan dan minuman, industri otomotif, industri elektronik, industri kimia, serta industri tekstil.

"Pemerintah sejak dua tahun terakhir itu sudah sangat sadar dalam menyusun langkah-langkah kebijakan menghadapi perkembanga ekonomi dunia sehingga ekonomi kita bisa lebih sehat untuk menghadapinya," ujarnya.

(sfr/lav)