Kepala BPS Suhariyanto mengungkapkan melebarnya defisit tak lepas dari melambatnya sejumlah ekspor komoditas ke China akibat pelemahan pertumbuhan ekonomi Negeri Tirai Bambu.
Tercatat, ekspor non migas ke China turun 11,05 persen secara tahunan menjadi US$1,71 miliar dari US$1,92 miliar. Penurunan terbesar pada batu bara, tembaga, dan bijih logam, serta besi baja.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di sektor migas, ekspor Indonesia ke China juga melemah 4,36 persen menjadi US$184,6 juta.
"Ekonomi China pada 2019 diprediksi melambat dan itu juga akan melengkapi kebutuhan bahan baku mereka, sehingga bisa menekan ekspor Indonesia," ujarnya dalam konferensi pers di Gedung BPS, Jumat (15/2).
Jika dilihat dari produknya, defisit neraca non migas dengan China yang terbesar terjadi pada produk mesin-mesin atau pesawat mekanik sebesar US$891,09 juta karena ekspor hanya US$14, 83 juta sementara impornya US$905,91 juta.
Kemudian, defisit pada produk mesin/peralatan listrik mengekor US$762,09 juta yang berasal dari impor yang mencapai US$781,01 juta jauh di atas ekspor yang hanya sebesar US$18,92 juta.
Defisit terbesar ketiga terjadi pada produk plastik dan barang dari plastik sebesar US$157,67 juta. Tercatat, ekspor plastik cuma US$26,31 juta di saat impor mencapai US$183,98 juta. (sfr/bir)