Di sisi lain, kekhawatiran terhadap perekonomian China membatasi kenaikan harga. Dilansir dari Reuters, Selasa (19/2), harga minyak mentah berjangka Brent naik US$0,16 menjadi US$66,41 per barel. Di awal sesi perdagangan, harga Brent sempat menyentuh level tertinggi tahun ini US$66,83 per barel.
Sementara itu, harga minyak mentah AS naik US$0,47 menjadi US$56,04 per barel.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita sedang melihat keseimbangan pasar minyak mentah yang paling ketat untuk beberapa tahun terakhir dan dukungan harga tertentu masuk akal untuk saat ini," ujar lembaga konsultan JBC Energy dalam catatannya.
Namun, performa pasar keuangan sedikit tertahan oleh penurunan penjualan mobil di China pada Januari 2019 lalu. Kondisi ini mengerek kekhawatiran terhadap perekonomian terbesar kedua di dunia tersebut.
Beberapa pelemahan tersebut turut dirasakan di pasar minyak. Namun, sejumlah analis mengatakan tren harga minyak mentah saat ini tetap menanjak.
"Banyak kemungkinan yang dapat berdampak pada harga minyak secara mendalam, coba pikirkan tentang Donald Trump yang tidak dapat diprediksi, Brexit, pembahasan perdagangan atau kenaikan produksi Libya dan/atau Venezuela yang akan terjadi pada akhirnya," ujar Analis PVM Oil Associates Tamas Varga.
Menurut Varga, data terakhir mengarah pada pengetatan pasar sehingga harga minyak akan cenderung menanjak.
Beberapa analis mengatakan kenaikan terus menerus produksi minyak AS dapat menahan reli harga minyak saat ini.
Pekan lalu, laporan Baker Hughes mencatat perusahaan energi AS mengerek jumlah rig sebanyak tiga rig menjadi 857 rig. Sebagai catatan, kenaikan jumlah rig dapat menjadi indikator kenaikan produksi ke depan.
"Kami berpandangan kenaikan harga minyak saat ini berlebihan dan melihat potensi koreksi yang terus tumbuh" ujar Commerzbank dalam catatannya yang dikutip Reuters.
Menurut Commerzbank, fakta menanjaknya produksi minyak AS yang lebih tajam dari perkiraan sebelumnya saat ini masih diacuhkan. (sfr/lav)